Selasa, 27 September 2011
Oleh Heru Muthahari

Bandung - Bila dahulu fotografi didominasi oleh sebagian kalangan elite. Namun, saat ini masyarakat harus mempercayai bahwa fotografi bisa dinikmati oleh siapapun. Hal tersebut dapat kita saksikan dalam pameran foto yang memperlihatkan wajah kota Bandung saat ini . Sebuah pameran  berjudul “Bandung Pisan” yang diselenggarakan pada Jum’at (23/9) sampai dengan Minggu (25/9) sebagai momentum hari jadi kota bandung ke-201.


Bandung merupakan kota metropolitan terbesar di Jawa Barat. Kota ini dikenal sebagai Kota Kembang karena pada zaman dahulu kota ini dinilai sangat cantik dengan banyaknya pepohonan dan bunga-bunga yang tumbuh disana. Selain itu, kota ini juga dijuluki Paris Van Java karena keindahan dan kesejukan kotanya yang disukai para kolonial yang menurut mereka sama dengan kota Paris, Perancis. karena itulah Bandung dijuluki Paris Van Java yang artinya paris dari Pulau Jawa. 

Kota dimana penduduknya didominasi etnis Sunda yang memiliki tabiat santun dan ramah, kini telah berusia 201 tahun. Banyak perubahan yang terjadi dalam perjalanan waktu tersebut. Kawasan kota Bandung yang dulu merupakan kawasan pertanian kini telah berubah menjadi kawasan perumahan seiring dengan laju urbanisasi.

Berbagai permasalahan sosial pun hadir dalam rentang waktu tersebut. Potret kota Bandung yang dulu elok, kini tercitra kusam dalam benak masyarakat. Hal tersebut terlihat dari kumpulan foto warga yang didapatkan Arum, salah seorang kurator.

Menurutnya, kebanyakan foto yang dikirimkan warga banyak bermuatan kritik terhadap kebijakan pemerintah. Beragam peristiwa seperti kemacetan, aksi demonstrasi, pencemaran lingkungan, vandalisme kota bandung, dan  beberapa kritik sosial lainnya dapat terlihat dalam pameran foto ini.


Dalam pameran ini, para kurator melakukan kurasi terhadap 412 foto hasil jepretan 63 fotografer. 412 foto tersebut  kemudian disusutkan kembali menjadi 183 foto. Proses kurasi tersebut dilakukan oleh tiga orang kurator yaitu Deni Sugandi dari komunitas Lubang Jarum, Arum Tresnaningtyas perwakilan jurnalis foto, dan Ridwan Hutagalung dari Komunitas Aleut.

Hal yang  menarik dari pameran ini juga dapat terlihat dalam konsep tampilan penyajian karya fotonya. Penyajian yang bergaya egalite ini disimbolkan dalam sajian display bernuansa etnik dengan penggunaan bambu lokal sebagai pemajangan karya foto. Menurut M. Gelora Sapta, ketua Wartawan Foto Bandung (WFB) pameran foto ini memang sengaja diseting di luar ruangan. Hal tersebut dimaksudkan untuk memberikan gambaran kepada masyarakat bahwa fotografi sejatinya adalah media demokratis. Dimana masyarakat dapat menyampaikan berbagai pesannya melalui pameran foto.

“Pameran foto itu bisa dilakukan dimana saja serta kapan saja. Dengan tampilan seperti ini kesungkanan masyarakat dalam mengunjungi pameran bisa terkikis,” ujar Gelora Sapta.

Bila dalam catatan buku Toekang Potret, terbitan museum etnologi di Roterdam, dinyatakan bahwa awal perkembangan fotografi di dominasi oleh warga Eropa, Jepang, dan keturunan Tionghoa. Sedangkan nasib saat itu memperlihatkan ketiadaan akses masyarakat kecil terhadap dunia fotografi. Kini keadaan sudah jauh berubah, fotografi sudah semakin populer.

“Meskipun kini fotografi sudah mudah, murah, dan bisa diakses siapapun, tanpa harus melihat latar dan sebagainya. Fotografi tetap harus disajikan bagus secara visual dan baik dalam isi penyampaian pesan,” ucap Deni.
dikutip dari: http://www.indonesiakreatif.net/index.php/id/news/read/bingkai-kacamata-masyarakat-bandung-dalam-pameran-foto-bandung-pisan

0 komentar:

Cari Blog Ini

Entri Populer

Image and video hosting by TinyPic
Diberdayakan oleh Blogger.