Senin, 10 Januari 2011

"Latar belakang saya seni grafis, belajar di Indonesia dan Jerman. Tapi bagi saya media itu tidak cukup. Ada media lain seperti instalasi, performance art, teater, puisi dan sebagainya"

Tisna Sanjaya: Ia Ada dan Jaya.
Hal itu yang membuat Tisna Sanajaya seorang seniman yang lengkap.  Tisna Sanajaya adalah perupa, pelukis, pematung. Ia juga seorang aktor, penyair, dan sutradara. Ia adalah seniman yang bekerja dengan berbagai media dan materi. Baginya, seni tidak terkotak-kotak,an seni adalah satu. Yang membedakannya hanyalah bentuk, media, materi, rasa, dan ekspresi seniman dalam mencerna dan memahami esensi seni. Dan ia menggeluti semua bentuk seni sebagai cara menemukan dan mencari ‘hakikat seni’.
Walau demikian, Tisna jatuh cinta dan menemukan keasikan yang berbeda dalam seni grafis. Baginya, seni grafis tidak hanya sebagai ‘hasil’, tetapi juga cara menafsir ‘proses’ yang dilakukannya, yaitu memaknai tiap langkah yang dilakukannya. Menurutnya, berproses merupakan pembentukan ‘watak’ watak’ dan ‘keyakinan’ estetik yang bersifat personal, dimana ia bisa menyisipkan persoalan nilai-nilai menyangkut: sikap, prinsip, dan inspirasi hidup.

Tisna lahir di Bandung pada tanggal 28 Januari 1958. Masa kecilnya banyak dihabiskan dengan bermain bola; mengbal kata Bahasa Sundanya. Ia dulu sering bermain di kebun bambu, di lapangan yang luas, atau di sawah yang baru dipanen. Namun, itu dulu, ketika ruang terbuka masih ada dimana-mana, ketika ruang kosong masih mudah ditemui. Tanpa perlu memikirkan tempat, biaya, dan transportasi, semua orang dapat bermain bola. Suatu hal yang berbeda dengan kondisi Bandung sekarang ini
Semakin Tisna bertambah usia, semakin berkurang jumlah ruang terbuka di Bandung. Ruang terbuka yang dulu tertutup oleh rumput, sekarang ditutup oleh aspal, bata, semen, dan batu. Ia tidak lagi terbuka, ia menjadi tertutup, bahkan air pun sudah tak tahu mesti mengalir kemana. Sama seperti dengan manusia, mereka kehilangan tempat, kehilangan tujuan, dan kehilangan arah. Manusia menjadi limbung.
Kelimbungan itulah yang coba diungkapkan dan diekpresikan oleh Tisna melalui karya-karyanya. Ia mencoba kritis pada fenomena sosial, termasuk perubahan alam, perilaku manusia, dan ‘kekanibalan’ manusia. Karya-karyanya yang merupakan sebuah kontemplasi, mencoba berkomunikasi dan menggugah orang lain untuk berbuat dan beraksi. Bagi dia, karyanya merupakan sebuah jembatan untuk mencintai kehidupan, saling berbagi rasa untuk kebaikan.

Tisna melukis sejak ia kuliah di Seni Rupa IKIP (sekarang UPI) Bandung tahun 1978. Tahun 1979, ia pindah ke Seni Rupa ITB, dan terus melukis hingga sekarang. Ia sempat melanjutkan studinya ke Jerman, dan mendapatkan gelar diploma seni di Hochschule fuer Bildende Kuenste, Braunschweig (Akademi Seni Rupa), hingga akhirnya  menjadi “Meisterschueler” (master student) dari Prof. Karl-Christoph Schulz.
Masa belajarnya di Jerman, membawa dirinya dalam sebuah pergulatan hidup, dimana ia menemui ‘rasa’ keterasingan dan kesendirian. Rasa tersebutlah yang kemudian membawa dia pada emosi dalam proses berkarya, hingga ia menghasilkan suatu bentuk dan  goresan yang menjadi ciri khasnya seorang. Baginya, pengalaman hidup di Jerman adalah sebuah pengalaman spiritual, dimana ia terasing di sebuah dunia yang tidak dia kenal, dengan bahasa yang awam, menempatkan Tisna pada titik kontemplasi dan renungan terdalam. Hingga akhirnya ia kembali ke Indonesia, kesunyian menjadi ‘teman’ terbaik dalam berkarya. Malamlah yang peneman setia dalam proses berkarya.
Hasil karyanya, terlihat memiliki dua ruang; ruang pribadi dan ruang publik. Dalam ruang pribadi, dirinya sebagai sang seniman memiliki kuasa untuk menumpahkan emosinya, mulai dari kegelisahan, kekecewaan, kebahagiaan, kegetiran, sinisme, komedi, hingga kebahagiaan, semua ia luapkan ke dalam kanvas yang digoreskan melalui materi terpilih, yang tiap materi pilihannya pun mengandung pesan, nilai, dan makna. Ia melakukannya sebagai bentuk pemaknaan akan dunia.
Sedangkan ruang publik, ia menciptakan ruang sosial, ruang interaksi bagi siapapun untuk bertemu, bertegur sapa, silaturahmi, bergosip, berdiskusi, bertatap muka, atau hal apapun yang biasa di lakukan oleh setiap manusia. Ruang tersebut menjadi netral, tidak ada yang dikuasai dan yang menguasai, semua berbaur, bercampur, dan berelasi. Bentuk-bentuk ini lah yang menjadi wujud seni pula bagi Tisna. Tidak peduli bentuk dan materinya, yang termasuk seni baginya adalah ketika ia mampu merasakan diri dan jiwanya. Mencapai titik terdalam manusia untuk mencapai spiritualisme. Baginya, seni adalah panggilan ‘batin’. Dari panggilan tersebutlah, ia menjalankan tugasnya sebagai manusia di dunia ini. Sebuah panggilan yang diberikan untuknya, untuk ditunaikan kepada orang lain. Berangkat dari titik itulah, ia mencoba memberikan karyanya bagi masyarakat. Bukan dalam bentuk fisik, namun dalam sebuah perenungan, pemaknaan, cara pandang, dan sebuah enigma.

Ia pandai ‘membaca’ keseharian. Ia cerkas mencari celah. Dari dua hal tersebutlah, karya-karyanya sering berupa kritik sosial. Namun, layaknya sebuah enigma, dia tidak memberikan jawaban, dia hanya memberikan sebuah pertanyaan untuk dijawab oleh orang lain. Baginya, posisi dia sebagai seniman, seperti layaknya sebuah cermin,  cermin yang memantulkan dunia dari kacamata sang seniman. Ia kadang putih, namun seringkali hitam. Maka bagi Tisna, terang dan gelap merupakan konsep utama yang digunakannya dalam berkarya. Memunculkan yang gelap dalam gemerlap, dan melihat yang terang dalam gelap. Keduanya adalah kesatuan. Seperti seni. Esensi senilah yang memberikan kacamata baginya untuk ‘membaca’ masalah. Masalah yang sering diangkat olehnya, seringkali merupakan masalah keseharian, masalah yang berada dalam lingkungannya, masalah mendasar yang sebenarnya bisa tidak menjadi masalah. Tapi terkadang, masalah yang diungkapnya adalah masalah yang bukan masalah bagi orang lain. Sebuah problematik diri.
Berawal dari diri, dia melihat kondisi di sekelilingnya. Ia tinggal di kota besar, sebuah kota yang menapaki sebagai wilayah urban dimana kemoderenan diagungkan oleh mayoritas. Namun ia tetap merasa sebagai ‘orang kampung’, karena ia terkaget-kaget dengan perubahan yang sangat cepat, termasuk cara orang menanggapi dunia dan kediriannya. Dan Tisna, ia memilih sebagai ‘orang kampung’ yang sederhana, lugu, damai, toleran, terbuka, namun tidak menutup diri pada kebaruan, ia hanya menyaring apa yang menurutnya baik untuk diikuti. Seperti Kabayan, sosok dari dongeng Jawa Barat, yang sering mendapat masalah karena kepintarannya, namun pemalas.
Kemiripan Tisna dengan tokoh inilah, yang membuatnya membuat suatu program TV untuk TV lokal –STV- sebagai salah satu bentuk karyanya yang lain, Si Kabayan Nyitreuk (sentil). Nyintreuk ini pun dipilih sebagai terjemahan dari sentilan yang dianalogikan sebagai bentuk ‘peringatan’. Ia mencoba mengingatkan pada masyarakat, bahwa permasalahan yang terjadi di masyarakat tidak terjadi begitu saja, pasti ada sebabnya. Hukum sebab akibat. Dan ya, salah satunya penyebabnya adalah ulah masyarakat (termasuk: Pemerintah, Perangkat Hukum, Rakyat, DPR) itu sendiri.
Melalui program TV inilah, Tisna membahas permasalahan sosial, lingkungan, hukum yang terjadi di Jawa Barat. Karena sifatnya yang lebih interaktif dan komunikatif, ia berharap pesan yang disampaikan dapat sampai ke masyarakat. Namun seperti Kabayan, Tisna tidak bermaksud menggurui, ia hanya mengajak berpikir bersama akan permasalahan yang terjadi di sekeliling.

Ia memang lekat dengan kesundaan, namun ia memegang prinsip-prinsip Agama Islam dalam menjalankan ibadahnya. Ia adalah individu yang tinggal di kota besar, namun hidupnya masih berpijak pada alam pikir tradisi budaya local.  “Saya merasa damai berada dalam budaya Sunda yang ramah, cinta lingkungan, tidak suka konflik, dan sabar; sedangkan Agama Islam mengajarkan untuk toleran dan saling mengasihi antar umat.”
Tisna yang lekat dengan Budaya Sunda membawa hatinya dekat dengan alam. Filosofi Sunda menuntunnya untuk mencintai dan menyayangi alam. Ia menyukai pepohonan, karena sedari kecil orangtuanya mengajaknya untuk menanam dan merawat pohon. Ia sadar, bahwa pohon (alam)-lah yang memberikan oksigen bagi dirinya untuk bernafas. Tanpa mereka, tidak ada Tisna.
Berangkat dari situlah, permasalahan lingkungan pun sering dijadikan subjek dalam karyanya. Termasuk untuk studi S3nya, ia mengangkat Cigondewah, daerah asal ayahnya, menjadi kajian utama dalam karyanya. Ia mengkritisi perubahan alam yang terjadi di Cigondewah. Dulu, Cigondewah adalah daerah di pinggir Kota Bandung yang ‘hijau’, dengan air sungai yang jernih. Kini, ketika pabrik-pabrik dibangun di sekitar wilayah tersebut, lahan ‘hijau’ berubah menjadi tumpukan limbah (khususnya plastik) dan air sungai menjadi kotor, bau, dan coklat.
Ada dua hal yang diusung dalam studinya. Satu, air (sungai). Dua, ruang publik di Cigondewah. Dari hal yang pertama, Tisna membuat karya lukis yang menggunakan air sungai Cigondewah sebagai salah satu material dalam proses berkaryanya. Sedangkan dari hal yang kedua, ia menciptakan seni menciptakan ruang publik. Bahwa, proses komunikasi dan diskusi yang terjadi didalamnya, juga sebuah seni. Seperti hidup yang juga seni, ia pun perlu teknik untuk menjadi ‘indah.




 dikutip dari http://www.indonesiakreatif.net/index.php/id/ceritasukses/read/tisna-sanjaya-1/0


Cari Blog Ini

Entri Populer

Image and video hosting by TinyPic
Diberdayakan oleh Blogger.