Senin, 10 Januari 2011
11.24 | Diposting oleh
blankmoon |
Edit Entri
"Latar belakang saya seni grafis, belajar di Indonesia dan Jerman. Tapi bagi saya media itu tidak cukup. Ada media lain seperti instalasi, performance art, teater, puisi dan sebagainya"
Tisna Sanjaya: Ia Ada dan Jaya.Walau demikian, Tisna jatuh cinta dan menemukan keasikan yang berbeda dalam seni grafis. Baginya, seni grafis tidak hanya sebagai ‘hasil’, tetapi juga cara menafsir ‘proses’ yang dilakukannya, yaitu memaknai tiap langkah yang dilakukannya. Menurutnya, berproses merupakan pembentukan ‘watak’ watak’ dan ‘keyakinan’ estetik yang bersifat personal, dimana ia bisa menyisipkan persoalan nilai-nilai menyangkut: sikap, prinsip, dan inspirasi hidup.
Tisna lahir di Bandung pada tanggal 28 Januari 1958. Masa kecilnya banyak dihabiskan dengan bermain bola; mengbal kata Bahasa Sundanya. Ia dulu sering bermain di kebun bambu, di lapangan yang luas, atau di sawah yang baru dipanen. Namun, itu dulu, ketika ruang terbuka masih ada dimana-mana, ketika ruang kosong masih mudah ditemui. Tanpa perlu memikirkan tempat, biaya, dan transportasi, semua orang dapat bermain bola. Suatu hal yang berbeda dengan kondisi Bandung sekarang ini
Kelimbungan itulah yang coba diungkapkan dan diekpresikan oleh Tisna melalui karya-karyanya. Ia mencoba kritis pada fenomena sosial, termasuk perubahan alam, perilaku manusia, dan ‘kekanibalan’ manusia. Karya-karyanya yang merupakan sebuah kontemplasi, mencoba berkomunikasi dan menggugah orang lain untuk berbuat dan beraksi. Bagi dia, karyanya merupakan sebuah jembatan untuk mencintai kehidupan, saling berbagi rasa untuk kebaikan.
Masa belajarnya di Jerman, membawa dirinya dalam sebuah pergulatan hidup, dimana ia menemui ‘rasa’ keterasingan dan kesendirian. Rasa tersebutlah yang kemudian membawa dia pada emosi dalam proses berkarya, hingga ia menghasilkan suatu bentuk dan goresan yang menjadi ciri khasnya seorang. Baginya, pengalaman hidup di Jerman adalah sebuah pengalaman spiritual, dimana ia terasing di sebuah dunia yang tidak dia kenal, dengan bahasa yang awam, menempatkan Tisna pada titik kontemplasi dan renungan terdalam. Hingga akhirnya ia kembali ke Indonesia, kesunyian menjadi ‘teman’ terbaik dalam berkarya. Malamlah yang peneman setia dalam proses berkarya.
Sedangkan ruang publik, ia menciptakan ruang sosial, ruang interaksi bagi siapapun untuk bertemu, bertegur sapa, silaturahmi, bergosip, berdiskusi, bertatap muka, atau hal apapun yang biasa di lakukan oleh setiap manusia. Ruang tersebut menjadi netral, tidak ada yang dikuasai dan yang menguasai, semua berbaur, bercampur, dan berelasi. Bentuk-bentuk ini lah yang menjadi wujud seni pula bagi Tisna. Tidak peduli bentuk dan materinya, yang termasuk seni baginya adalah ketika ia mampu merasakan diri dan jiwanya. Mencapai titik terdalam manusia untuk mencapai spiritualisme. Baginya, seni adalah panggilan ‘batin’. Dari panggilan tersebutlah, ia menjalankan tugasnya sebagai manusia di dunia ini. Sebuah panggilan yang diberikan untuknya, untuk ditunaikan kepada orang lain. Berangkat dari titik itulah, ia mencoba memberikan karyanya bagi masyarakat. Bukan dalam bentuk fisik, namun dalam sebuah perenungan, pemaknaan, cara pandang, dan sebuah enigma.
Berawal dari diri, dia melihat kondisi di sekelilingnya. Ia tinggal di kota besar, sebuah kota yang menapaki sebagai wilayah urban dimana kemoderenan diagungkan oleh mayoritas. Namun ia tetap merasa sebagai ‘orang kampung’, karena ia terkaget-kaget dengan perubahan yang sangat cepat, termasuk cara orang menanggapi dunia dan kediriannya. Dan Tisna, ia memilih sebagai ‘orang kampung’ yang sederhana, lugu, damai, toleran, terbuka, namun tidak menutup diri pada kebaruan, ia hanya menyaring apa yang menurutnya baik untuk diikuti. Seperti Kabayan, sosok dari dongeng Jawa Barat, yang sering mendapat masalah karena kepintarannya, namun pemalas.
Kemiripan Tisna dengan tokoh inilah, yang membuatnya membuat suatu program TV untuk TV lokal –STV- sebagai salah satu bentuk karyanya yang lain, Si Kabayan Nyitreuk (sentil). Nyintreuk ini pun dipilih sebagai terjemahan dari sentilan yang dianalogikan sebagai bentuk ‘peringatan’. Ia mencoba mengingatkan pada masyarakat, bahwa permasalahan yang terjadi di masyarakat tidak terjadi begitu saja, pasti ada sebabnya. Hukum sebab akibat. Dan ya, salah satunya penyebabnya adalah ulah masyarakat (termasuk: Pemerintah, Perangkat Hukum, Rakyat, DPR) itu sendiri.
Melalui program TV inilah, Tisna membahas permasalahan sosial, lingkungan, hukum yang terjadi di Jawa Barat. Karena sifatnya yang lebih interaktif dan komunikatif, ia berharap pesan yang disampaikan dapat sampai ke masyarakat. Namun seperti Kabayan, Tisna tidak bermaksud menggurui, ia hanya mengajak berpikir bersama akan permasalahan yang terjadi di sekeliling.
Tisna yang lekat dengan Budaya Sunda membawa hatinya dekat dengan alam. Filosofi Sunda menuntunnya untuk mencintai dan menyayangi alam. Ia menyukai pepohonan, karena sedari kecil orangtuanya mengajaknya untuk menanam dan merawat pohon. Ia sadar, bahwa pohon (alam)-lah yang memberikan oksigen bagi dirinya untuk bernafas. Tanpa mereka, tidak ada Tisna.
Berangkat dari situlah, permasalahan lingkungan pun sering dijadikan subjek dalam karyanya. Termasuk untuk studi S3nya, ia mengangkat Cigondewah, daerah asal ayahnya, menjadi kajian utama dalam karyanya. Ia mengkritisi perubahan alam yang terjadi di Cigondewah. Dulu, Cigondewah adalah daerah di pinggir Kota Bandung yang ‘hijau’, dengan air sungai yang jernih. Kini, ketika pabrik-pabrik dibangun di sekitar wilayah tersebut, lahan ‘hijau’ berubah menjadi tumpukan limbah (khususnya plastik) dan air sungai menjadi kotor, bau, dan coklat.
dikutip dari http://www.indonesiakreatif.net/index.php/id/ceritasukses/read/tisna-sanjaya-1/0
Cari Blog Ini
Entri Populer
-
Istilah ini mulai digemari oleh anak-anak yg biasanya yang berkecimpung dipersepedahan, orang-orang kita biasa menyebutnya “Sepeda-Ronteng...
-
Mekanik Hantu Laut sedang bekerja/ Foto-foto: Novri TNOL Tak bisa dipungkiri, terkadang para bikers kurang begitu suka dengan tampilan asl...
-
Foto: Firmansyah/tnol BAGI Pencinta pesawat terbang, pastinya miniature pesawat terbang menjadi incaran mereka. Bahkan mereka akan berbur...
-
"Latar belakang saya seni grafis, belajar di Indonesia dan Jerman. Tapi bagi saya media itu tidak cukup. Ada media lain seperti insta...
-
“Bagi saya dunia seni rupa itu, apapun bentuk karya seni yang saya kreasi adalah merupakan hasil seni yang lahir dari dunia kontemplasi. H...
-
“Anda lihat pertunjukan di saung ini, suatu saat pertunjukan angklung ini akan mendunia. Kita tunggu saja” (Udjo Ngalagena, 5 Maret 1929 -...
-
Foto : Novriyadi MEMILIKI miniatur kereta api memang sangat mengasyikan, selain dapat bernostalgia dengan masa lalu, memiliki sebuah mini...
-
Iput (kanan) terlihat serius di bengkelnya/ Foto-foto: Safari TNOL Tempatnya tersembunyi di gang buntu yang sempit. Tapi, bengkel motor ya...
-
Pada akhir-akhir ini kita sering mendengar dan melihat berbagai bentuk karya dan usaha yang kreatif dan i...
-
“Saya percaya Tuhan seperti menanam chip di dalam setiap tubuh manusia. Kita dilahirkan untuk melakukan bidang tertentu. Tidak mungkin ras...
Diberdayakan oleh Blogger.