Senin, 18 April 2011
09.59 | Diposting oleh
blankmoon |
Edit Entri
“Bagi saya dunia seni rupa itu, apapun bentuk karya seni yang saya kreasi adalah merupakan hasil seni yang lahir dari dunia kontemplasi. Hasil renungan. Dengan demikian karya seni bukan semata-mata peristiwa atau buah karya dari daya imajinasi belaka. Didalamnya ada pergulatan pikiran, ada perjalanan ruang dan waktu yang mengental dalam lumpur pengalaman di batin saya” -Sunaryo
Tak hanya di Bandung, bisa ditemui pula karyanya di kota besar lainnya seperti monumen “Yogya Kembali” di Yogyakarta, atau beberapa patung dan monumen di Jakarta semisal monumen “Kesetiakawanan Sosial”, “Ikada”, dan patung “Jenderal Sudirman” setinggi 6,80 meter dan berat 4 ton yang bisa ditemui di bilangan jalan Sudirman, Jakarta.
Dunia seni memang sudah mengental dalam diri Sunaryo. Sejak kecil ia sudah menggemari dunia seni rupa. Sunaryo mengenang masa kecilnya bahwa dirinya sangat menyukai pelajaran menggambar. Ia mulai menunjukan kecintaanya terhadap dunia seni ketika ia sedang mengenyam bangku sekolah pada kelas 2 SD. Perolehan nilai pelajaran seni yang didapatnya selalu lebih baik dibandingkan nilai pelajaran Aljabar. Itulah yang membuat tekad dia bulat menekuni dunia seni rupa.
Kecintaannya pada dunia seni rupa diawali dengan kesenangannya mencorat-coret sejak masih menggunakan batu tulis di bangku sekolah dasar. Sejak itu ia mulai menggambar pelbagai bentuk dari pemandangan sampai potret wajah. Termasuk potret Presiden Soekarno yang kemudian dipajang di ruang kelasnya pada saat SD di Purwokerto tahun 1955.
“Sejak kanak-kanak tangan saya tidak suka diam, suka gatal buat menggambar sesuatu. Jika melihat sesuatu yang menarik perhatian saya, saya selalu ingin menatanya atau mengubahnya secara visual menjadi sesuatu yang baru sesuai dengan apa yang saya inginkan,” tutur Sunaryo. “Saya ingat, waktu kelas 2 SD dulu saya pernah mendapat tugas dari guru saya. Waktu itu saya disuruh menggambar dengan objek anak bayi, tapi pada masa itu menggambarnya tidak pakai pensil melainkan memakai batu tulis. Saya gambar anak bayi tersebut dan mendapatkan nilai 9. Sejak kejadian itulah saya mulai suka menggambar,” lanjutnya.
Baginya, dengan menggambar ia bisa melakukan apapun dalam berimajinasi dan berkreativitas, “Saya menyukai pelajaran menggambar karena saya bisa berimajinasi apa saja untuk diekspresikan di atas kertas,” ucap pria kelahiran Banyumas pada tanggal 15 Mei 1943 ini.
Perhatiannya pada seni rupa semakin besar ketika ia menginjak masa SMA. Selepas lulus SMA, ia membulatkan tekad untuk masuk Jurusan Seni Rupa di ITB. Sunaryo mengenang ada peristiwa unik ketika menjelang ujian masuk Seni Rupa ITB. Ketika iDengan semangat, tekad, dan perjuangan keras, Sunaryo pun lulus dan diterima di Fakultas Seni Rupa ITB dan mengambil jurusan Seni Patung. Ia menyelesaikan kuliahnya pada tahun 1969. Tak hanya bekal sebagai Sarjana Seni Rupa, tapi mengantarkannya juga sebagai seorang seniman yang sejak saat itu tak henti berkarya.
Sunaryo melanjutkan pendidikan keseniannya di Marble Technology, Carrara, Italia pada tahun 1975. Di sekolah itu ia mengambil jurusan Teknik Marmer. Sekembalinya ke Indonesia Sunaryo memilih berprofesi sebagai pengajar di ITB dari tahun 1970-an sampai 2008. Tak hanya mengajar, ia juga turut aktif berkarya dan terbilang produktif. Beberapa pameran baik pameran tunggal maupun pameran kolaborasi telah ia lakukan, seperti Asean Exhibition of Painting Graphic Art and Photography di negara-negara Asean (1983), Pameran patung dan lukisan “Diantara Alam” di Jakarta (1991), pameran tunggal di Washington, Amerika Serikat yang berjudul “A Stage of Metamorphosis” (2001), dan masih banyak segudang pameran yang ia lakukan.
“Bagi saya dunia seni rupa itu, apapun bentuk karya seni yang saya kreasi adalah merupakan hasil seni yang lahir dari dunia kontemplasi. Hasil renungan. Dengan demikian karya seni bukan semata-mata peristiwa atau buah karya dari daya imajinasi belaka. Didalamnya ada pergulatan pikiran, ada perjalanan ruang dan waktu yang mengental dalam lumpur pengalaman di batin saya” -Sunaryo
Dunia seni memang sudah mengental dalam diri Sunaryo. Sejak kecil ia sudah menggemari dunia seni rupa. Sunaryo mengenang masa kecilnya bahwa dirinya sangat menyukai pelajaran menggambar. Ia mulai menunjukan kecintaanya terhadap dunia seni ketika ia sedang mengenyam bangku sekolah pada kelas 2 SD. Perolehan nilai pelajaran seni yang didapatnya selalu lebih baik dibandingkan nilai pelajaran Aljabar. Itulah yang membuat tekad dia bulat menekuni dunia seni rupa.
Kecintaannya pada dunia seni rupa diawali dengan kesenangannya mencorat-coret sejak masih menggunakan batu tulis di bangku sekolah dasar. Sejak itu ia mulai menggambar pelbagai bentuk dari pemandangan sampai potret wajah. Termasuk potret Presiden Soekarno yang kemudian dipajang di ruang kelasnya pada saat SD di Purwokerto tahun 1955.
“Sejak kanak-kanak tangan saya tidak suka diam, suka gatal buat menggambar sesuatu. Jika melihat sesuatu yang menarik perhatian saya, saya selalu ingin menatanya atau mengubahnya secara visual menjadi sesuatu yang baru sesuai dengan apa yang saya inginkan,” tutur Sunaryo. “Saya ingat, waktu kelas 2 SD dulu saya pernah mendapat tugas dari guru saya. Waktu itu saya disuruh menggambar dengan objek anak bayi, tapi pada masa itu menggambarnya tidak pakai pensil melainkan memakai batu tulis. Saya gambar anak bayi tersebut dan mendapatkan nilai 9. Sejak kejadian itulah saya mulai suka menggambar,” lanjutnya.
Baginya, dengan menggambar ia bisa melakukan apapun dalam berimajinasi dan berkreativitas, “Saya menyukai pelajaran menggambar karena saya bisa berimajinasi apa saja untuk diekspresikan di atas kertas,” ucap pria kelahiran Banyumas pada tanggal 15 Mei 1943 ini.
Perhatiannya pada seni rupa semakin besar ketika ia menginjak masa SMA. Selepas lulus SMA, ia membulatkan tekad untuk masuk Jurusan Seni Rupa di ITB. Sunaryo mengenang ada peristiwa unik ketika menjelang ujian masuk Seni Rupa ITB. Ketika iDengan semangat, tekad, dan perjuangan keras, Sunaryo pun lulus dan diterima di Fakultas Seni Rupa ITB dan mengambil jurusan Seni Patung. Ia menyelesaikan kuliahnya pada tahun 1969. Tak hanya bekal sebagai Sarjana Seni Rupa, tapi mengantarkannya juga sebagai seorang seniman yang sejak saat itu tak henti berkarya.
Sunaryo melanjutkan pendidikan keseniannya di Marble Technology, Carrara, Italia pada tahun 1975. Di sekolah itu ia mengambil jurusan Teknik Marmer. Sekembalinya ke Indonesia Sunaryo memilih berprofesi sebagai pengajar di ITB dari tahun 1970-an sampai 2008. Tak hanya mengajar, ia juga turut aktif berkarya dan terbilang produktif. Beberapa pameran baik pameran tunggal maupun pameran kolaborasi telah ia lakukan, seperti Asean Exhibition of Painting Graphic Art and Photography di negara-negara Asean (1983), Pameran patung dan lukisan “Diantara Alam” di Jakarta (1991), pameran tunggal di Washington, Amerika Serikat yang berjudul “A Stage of Metamorphosis” (2001), dan masih banyak segudang pameran yang ia lakukan.
SSAS didirikan oleh Sunaryo dengan maksud menjadikannya sebuah ruang publik yang terbuka untuk berbagai ekspresi kesenian. Sejak pendiriannya pada tahun 1998, pelbagai jenis kegiatan telah berlangsung mulai dari pameran seni rupa, pementasan seni pertunjukan, konser musik, pemutaran film, diskusi, lokakarya, kompetisi untuk anak-anak, pembacaan puisi dan lain sebagainya. Semua itu diselenggarakan dengan tujuan menghadirkan praktik seni sebagai suatu wahana untuk memahami pelbagai persoalan kebudayaan terkini, dan kehidupan manusia secara lebih luas.
“Sejak awal saya ingin bahwa masyarakat seni di Kota Bandung punya tempat untuk mengapresiasi karya seni rupa, sebagaimana yang terjadi di Eropa. Berkaitan dengan itu apa yang yang saya buat ini saya persembahkan untuk masyarakat Bandung. Di Selasar Sunaryo Art Space ada ruang utama yang menyimpan karya seni yang saya buat. Masyarakat bisa menikmatinya dengan cara mengapresiasinya,” ucap Sunaryo. “Program pementasan karya seni mulai dari teater, baca puisi, seni tari, dan musik merupakan hasil kerjasama kami dengan lembaga-lembaga seni, baik yang ada di Kota Bandung maupun di luar Kota Bandung, bahkan hingga organisasi internasional macam UNESCO (Badan PBB di bidang pendidikan). Dalam bidang seni rupa ada juga program pelatihan menjadi kurator atau penyelenggaraan pameran seni rupa yang profesional, mulai dari menyiapkan katalog hingga membersihkan WC, yang ada di sebuah tempat pameran lukisan. Pendeknya, profesionalisme itu harus jadi acuan. Tanpa itu, kita tidak akan pernah maju dalam bidang apapun,” lanjutnya menegaskan pentingnya integritas profesionalisme dalam berkarya bagi para seniman.
Galeri SSAS merupakan salah satu cita-cita Sunaryo yang menjadi kenyataan. Baginya, rasa ingin berbagi ilmu itu telah tertanam sejak ia masih kecil. Sunaryo mengenang ketika masa kecilnya ia dan keluarga di kampung, rasa berbagi kepada para tetangga baik berupa makanan atau pun hal lainnya merupakan energi penting yang mendasari berdirinya galeri SSAS.
“Galeri ini dibangun bukan berdasarkan nurutin apa yang dilakukan orang lain, tapi murni keinginan saya yang sejak kecil sudah dididik untuk berbagi sesuatu. Dengan galeri ini, saya ingin berbagi ilmu dan menjadikannya manfaat,” ucap Sunaryo. “Cita-citanya sudah lama,” kenangnya. Sampai suatu saat ketika kehidupannya semakin mapan, istrinya mengingatkan kembali impian suaminya: “Katanya mau membangun galeri?”
Kini, galeri yang sudah berdiri lebih dari satu dekade ini, masih menjadi salah satu tonggak eksistensi dunia seni rupa, baik Bandung maupun Indonesia. Salah satunya ditandai dengan pameran dan peluncuran buku “A Decade of Dedication” pada 5 September 2008 lalu yang membuktikan dedikasi Sunaryo terhadap perkembangan dunia seni rupa. Dalam acara pembukaan pameran tersebut bahkan penyair Goenawan Mohmad dalam pidato pembukaannya menyebut Selasar bagaikan permata di Kota Bandung.
“Semua yang kami tampilkan di sini (galeri SSAS) untuk publik seni di Kota Bandung khususnya dan rakyat Indonesia pada umumnya. Saya berharap dengan adanya pementasan seni maupun pameran seni rupa di sini, hal itu bisa memicu daya kreatif para seniman Kota Bandung untuk berkarya lebih giat lagi. Hanya dengan cara semacam inilah saya bisa turut membangun iklim berkesenian di Kota Bandung yang saya cintai ini,” ujar Sunaryo.
Cari Blog Ini
Entri Populer
-
Istilah ini mulai digemari oleh anak-anak yg biasanya yang berkecimpung dipersepedahan, orang-orang kita biasa menyebutnya “Sepeda-Ronteng...
-
Mekanik Hantu Laut sedang bekerja/ Foto-foto: Novri TNOL Tak bisa dipungkiri, terkadang para bikers kurang begitu suka dengan tampilan asl...
-
Foto: Firmansyah/tnol BAGI Pencinta pesawat terbang, pastinya miniature pesawat terbang menjadi incaran mereka. Bahkan mereka akan berbur...
-
"Latar belakang saya seni grafis, belajar di Indonesia dan Jerman. Tapi bagi saya media itu tidak cukup. Ada media lain seperti insta...
-
“Bagi saya dunia seni rupa itu, apapun bentuk karya seni yang saya kreasi adalah merupakan hasil seni yang lahir dari dunia kontemplasi. H...
-
“Anda lihat pertunjukan di saung ini, suatu saat pertunjukan angklung ini akan mendunia. Kita tunggu saja” (Udjo Ngalagena, 5 Maret 1929 -...
-
Foto : Novriyadi MEMILIKI miniatur kereta api memang sangat mengasyikan, selain dapat bernostalgia dengan masa lalu, memiliki sebuah mini...
-
Iput (kanan) terlihat serius di bengkelnya/ Foto-foto: Safari TNOL Tempatnya tersembunyi di gang buntu yang sempit. Tapi, bengkel motor ya...
-
Pada akhir-akhir ini kita sering mendengar dan melihat berbagai bentuk karya dan usaha yang kreatif dan i...
-
“Saya percaya Tuhan seperti menanam chip di dalam setiap tubuh manusia. Kita dilahirkan untuk melakukan bidang tertentu. Tidak mungkin ras...
Diberdayakan oleh Blogger.