Senin, 18 April 2011
“Bagi saya dunia seni rupa itu, apapun bentuk karya seni yang saya kreasi adalah merupakan hasil seni yang lahir dari dunia kontemplasi. Hasil renungan. Dengan demikian karya seni bukan semata-mata peristiwa atau buah karya dari daya imajinasi belaka. Didalamnya ada pergulatan pikiran, ada perjalanan ruang dan waktu yang mengental dalam lumpur pengalaman di batin saya” -Sunaryo
Itulah ungkapan dari Sunaryo mengenai filosofis berkarya dirinya. Sebagai seniman Sunaryo telah berpameran tak hanya di dalam negeri tapi juga di banyak negara, dari mulai Jepang, Malaysia, Denmark, hingga Amerika Serikat. Nama Sunaryo adalah nama yang tak boleh dilewatkan jika orang hendak menyebut nama-nama patung dan monumen yang karyanya tersebar di beberapa kota besar Indonesia. Di Bandung sendiri karya-karyanya berupa patung dan monumen bisa ditemukan misalnya di monumen “Bandung Lautan Api” di lapang Tegallega, monumen “Dasasila Bandung” di Simpang Lima, monumen “Perjuangan Rakyat Jawa Barat” di daerah Dipati Ukur, hingga monumen di sebuah perumahan di jalan Soekarno Hatta.
Tak hanya di Bandung, bisa ditemui pula karyanya di kota besar lainnya seperti monumen “Yogya Kembali” di Yogyakarta, atau beberapa patung dan monumen di Jakarta semisal monumen “Kesetiakawanan Sosial”, “Ikada”, dan patung “Jenderal Sudirman” setinggi 6,80 meter dan berat 4 ton yang bisa ditemui di bilangan jalan Sudirman, Jakarta.
“Hampir 90% patung yang saya buat merupakan lomba yang saya menangkan, kecuali patung Sudirman. Itu order dari Pemda DKI Jakarta,” ujar Sunaryo yang membuat patung Sudirman tersebut pada tahun 2003.
Dunia seni memang sudah mengental dalam diri Sunaryo. Sejak kecil ia sudah menggemari dunia seni rupa. Sunaryo mengenang masa kecilnya bahwa dirinya sangat menyukai pelajaran menggambar. Ia mulai menunjukan kecintaanya terhadap dunia seni ketika ia sedang mengenyam bangku sekolah pada kelas 2 SD. Perolehan nilai pelajaran seni yang didapatnya selalu lebih baik dibandingkan nilai pelajaran Aljabar. Itulah yang membuat tekad dia bulat menekuni dunia seni rupa.
Kecintaannya pada dunia seni rupa diawali dengan kesenangannya mencorat-coret sejak masih menggunakan batu tulis di bangku sekolah dasar. Sejak itu ia mulai menggambar pelbagai bentuk dari pemandangan sampai potret wajah. Termasuk potret Presiden Soekarno yang kemudian dipajang di ruang kelasnya pada saat SD di Purwokerto tahun 1955.
“Sejak kanak-kanak tangan saya tidak suka diam, suka gatal buat menggambar sesuatu. Jika melihat sesuatu yang menarik perhatian saya, saya selalu ingin menatanya atau mengubahnya secara visual menjadi sesuatu yang baru sesuai dengan apa yang saya inginkan,” tutur Sunaryo. “Saya ingat, waktu kelas 2 SD dulu saya pernah mendapat tugas dari guru saya. Waktu itu saya disuruh menggambar dengan objek anak bayi, tapi pada masa itu menggambarnya tidak pakai pensil melainkan memakai batu tulis. Saya gambar anak bayi tersebut dan mendapatkan nilai 9. Sejak kejadian itulah saya mulai suka menggambar,” lanjutnya.
Baginya, dengan menggambar ia bisa melakukan apapun dalam berimajinasi dan berkreativitas, “Saya menyukai pelajaran menggambar karena saya bisa berimajinasi apa saja untuk diekspresikan di atas kertas,” ucap pria kelahiran Banyumas pada tanggal 15 Mei 1943 ini.
Perhatiannya pada seni rupa semakin besar ketika ia menginjak masa SMA. Selepas lulus SMA, ia membulatkan tekad untuk masuk Jurusan Seni Rupa di ITB. Sunaryo mengenang ada peristiwa unik ketika menjelang ujian masuk Seni Rupa ITB. Ketika itu, di Semarang tempat ujian berlangsung, ia tinggal di rumah kerabatnya seorang polisi. Dengan sepeda polisi itulah ia datang ke tempat ujian dan hanya membawa peralatan water ferek dan kuas kecil, yang dipinjamnya dari seorang anak SMP. Begitu pula ketika ia kebingungan mencari tempat air untuk water ferek-nya sewaktu hendak melukis. Namun, keadaan darurat selalu membuat orang memunculkan ide kreatifnya. Sunaryo tak patah arang. Dengan idenya yang brilian, ia mencopot bel sepedanya hingga bisa menjadi tempat untuk air. Dan, air itu pun diambilnya dari tukang es.
Dengan semangat, tekad, dan perjuangan keras, Sunaryo pun lulus dan diterima di Fakultas Seni Rupa ITB dan mengambil jurusan Seni Patung. Ia menyelesaikan kuliahnya pada tahun 1969. Tak hanya bekal sebagai Sarjana Seni Rupa, tapi mengantarkannya juga sebagai seorang seniman yang sejak saat itu tak henti berkarya.
“Bagi saya seni patung dan melukis hampir sama, karena lewat media tersebut kita bisa banyak berbicara dan berekspresi,” ucapnya. “Seni patung adalah seni yang penuh tantangan untuk mewujudkannya secara visual. Selain itu, pada waktu saya memilih jurusan tersebut, di Seni Rupa ITB, Jurusan Seni Patung adalah jurusan yang baru dibuka, dan saya merupakan mahasiswa angkatan pertama di jurusan tersebut. Guru saya pada saat itu, selain But Muchtar, adalah pematung G. Sidharta, dan Rita Widagdo. Ketiganya adalah seniman hebat. Saya sungguh beruntung punya guru seperti mereka, yang selalu mendorong muridnya untuk terus berproses kreatif,” ucap pria yang dikaruniai tiga orang anak ini.
Sunaryo melanjutkan pendidikan keseniannya di Marble Technology, Carrara, Italia pada tahun 1975. Di sekolah itu ia mengambil jurusan Teknik Marmer. Sekembalinya ke Indonesia Sunaryo memilih berprofesi sebagai pengajar di ITB dari tahun 1970-an sampai 2008. Tak hanya mengajar, ia juga turut aktif berkarya dan terbilang produktif. Beberapa pameran baik pameran tunggal maupun pameran kolaborasi telah ia lakukan, seperti Asean Exhibition of Painting Graphic Art and Photography di negara-negara Asean (1983), Pameran patung dan lukisan “Diantara Alam” di Jakarta (1991), pameran tunggal di Washington, Amerika Serikat yang berjudul “A Stage of Metamorphosis” (2001),  dan masih banyak segudang pameran yang ia lakukan.
 
“Bagi saya dunia seni rupa itu, apapun bentuk karya seni yang saya kreasi adalah merupakan hasil seni yang lahir dari dunia kontemplasi. Hasil renungan. Dengan demikian karya seni bukan semata-mata peristiwa atau buah karya dari daya imajinasi belaka. Didalamnya ada pergulatan pikiran, ada perjalanan ruang dan waktu yang mengental dalam lumpur pengalaman di batin saya” -Sunaryo
Itulah ungkapan dari Sunaryo mengenai filosofis berkarya dirinya. Sebagai seniman Sunaryo telah berpameran tak hanya di dalam negeri tapi juga di banyak negara, dari mulai Jepang, Malaysia, Denmark, hingga Amerika Serikat. Nama Sunaryo adalah nama yang tak boleh dilewatkan jika orang hendak menyebut nama-nama patung dan monumen yang karyanya tersebar di beberapa kota besar Indonesia. Di Bandung sendiri karya-karyanya berupa patung dan monumen bisa ditemukan misalnya di monumen “Bandung Lautan Api” di lapang Tegallega, monumen “Dasasila Bandung” di Simpang Lima, monumen “Perjuangan Rakyat Jawa Barat” di daerah Dipati Ukur, hingga monumen di sebuah perumahan di jalan Soekarno Hatta. Tak hanya di Bandung, bisa ditemui pula karyanya di kota besar lainnya seperti monumen “Yogya Kembali” di Yogyakarta, atau beberapa patung dan monumen di Jakarta semisal monumen “Kesetiakawanan Sosial”, “Ikada”, dan patung “Jenderal Sudirman” setinggi 6,80 meter dan berat 4 ton yang bisa ditemui di bilangan jalan Sudirman, Jakarta.
“Hampir 90% patung yang saya buat merupakan lomba yang saya menangkan, kecuali patung Sudirman. Itu order dari Pemda DKI Jakarta,” ujar Sunaryo yang membuat patung Sudirman tersebut pada tahun 2003.
Dunia seni memang sudah mengental dalam diri Sunaryo. Sejak kecil ia sudah menggemari dunia seni rupa. Sunaryo mengenang masa kecilnya bahwa dirinya sangat menyukai pelajaran menggambar. Ia mulai menunjukan kecintaanya terhadap dunia seni ketika ia sedang mengenyam bangku sekolah pada kelas 2 SD. Perolehan nilai pelajaran seni yang didapatnya selalu lebih baik dibandingkan nilai pelajaran Aljabar. Itulah yang membuat tekad dia bulat menekuni dunia seni rupa.
Kecintaannya pada dunia seni rupa diawali dengan kesenangannya mencorat-coret sejak masih menggunakan batu tulis di bangku sekolah dasar. Sejak itu ia mulai menggambar pelbagai bentuk dari pemandangan sampai potret wajah. Termasuk potret Presiden Soekarno yang kemudian dipajang di ruang kelasnya pada saat SD di Purwokerto tahun 1955.
“Sejak kanak-kanak tangan saya tidak suka diam, suka gatal buat menggambar sesuatu. Jika melihat sesuatu yang menarik perhatian saya, saya selalu ingin menatanya atau mengubahnya secara visual menjadi sesuatu yang baru sesuai dengan apa yang saya inginkan,” tutur Sunaryo. “Saya ingat, waktu kelas 2 SD dulu saya pernah mendapat tugas dari guru saya. Waktu itu saya disuruh menggambar dengan objek anak bayi, tapi pada masa itu menggambarnya tidak pakai pensil melainkan memakai batu tulis. Saya gambar anak bayi tersebut dan mendapatkan nilai 9. Sejak kejadian itulah saya mulai suka menggambar,” lanjutnya.
Baginya, dengan menggambar ia bisa melakukan apapun dalam berimajinasi dan berkreativitas, “Saya menyukai pelajaran menggambar karena saya bisa berimajinasi apa saja untuk diekspresikan di atas kertas,” ucap pria kelahiran Banyumas pada tanggal 15 Mei 1943 ini.
Perhatiannya pada seni rupa semakin besar ketika ia menginjak masa SMA. Selepas lulus SMA, ia membulatkan tekad untuk masuk Jurusan Seni Rupa di ITB. Sunaryo mengenang ada peristiwa unik ketika menjelang ujian masuk Seni Rupa ITB. Ketika itu, di Semarang tempat ujian berlangsung, ia tinggal di rumah kerabatnya seorang polisi. Dengan sepeda polisi itulah ia datang ke tempat ujian dan hanya membawa peralatan water ferek dan kuas kecil, yang dipinjamnya dari seorang anak SMP. Begitu pula ketika ia kebingungan mencari tempat air untuk water ferek-nya sewaktu hendak melukis. Namun, keadaan darurat selalu membuat orang memunculkan ide kreatifnya. Sunaryo tak patah arang. Dengan idenya yang brilian, ia mencopot bel sepedanya hingga bisa menjadi tempat untuk air. Dan, air itu pun diambilnya dari tukang es.
Dengan semangat, tekad, dan perjuangan keras, Sunaryo pun lulus dan diterima di Fakultas Seni Rupa ITB dan mengambil jurusan Seni Patung. Ia menyelesaikan kuliahnya pada tahun 1969. Tak hanya bekal sebagai Sarjana Seni Rupa, tapi mengantarkannya juga sebagai seorang seniman yang sejak saat itu tak henti berkarya.
“Bagi saya seni patung dan melukis hampir sama, karena lewat media tersebut kita bisa banyak berbicara dan berekspresi,” ucapnya. “Seni patung adalah seni yang penuh tantangan untuk mewujudkannya secara visual. Selain itu, pada waktu saya memilih jurusan tersebut, di Seni Rupa ITB, Jurusan Seni Patung adalah jurusan yang baru dibuka, dan saya merupakan mahasiswa angkatan pertama di jurusan tersebut. Guru saya pada saat itu, selain But Muchtar, adalah pematung G. Sidharta, dan Rita Widagdo. Ketiganya adalah seniman hebat. Saya sungguh beruntung punya guru seperti mereka, yang selalu mendorong muridnya untuk terus berproses kreatif,” ucap pria yang dikaruniai tiga orang anak ini.
Sunaryo melanjutkan pendidikan keseniannya di Marble Technology, Carrara, Italia pada tahun 1975. Di sekolah itu ia mengambil jurusan Teknik Marmer. Sekembalinya ke Indonesia Sunaryo memilih berprofesi sebagai pengajar di ITB dari tahun 1970-an sampai 2008. Tak hanya mengajar, ia juga turut aktif berkarya dan terbilang produktif. Beberapa pameran baik pameran tunggal maupun pameran kolaborasi telah ia lakukan, seperti Asean Exhibition of Painting Graphic Art and Photography di negara-negara Asean (1983), Pameran patung dan lukisan “Diantara Alam” di Jakarta (1991), pameran tunggal di Washington, Amerika Serikat yang berjudul “A Stage of Metamorphosis” (2001),  dan masih banyak segudang pameran yang ia lakukan.
 
Nama Sunaryo tak hanya dikenang lewat karyanya semata. Ia juga turut berkontribusi dalam membesarkan dunia seni rupa di Indonesia dengan mendirikan sebuah galeri bernama Selasar Sunaryo Art Space di daerah Dago Pakar, Bandung. Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) didirikan pada tahun 1998. Desain bangunan yang merupakan sinergi pemikirannya dengan arsitek Ir. Baskoro Tejo untuk merancang bangunan itu sedemikian rupa. Bangunan itu terdiri dari dua lantai dengan bentuk melambangkan bagian dari satu wadah yang lebih besar dan dibagi beberapa ruang antara lain ruang pameran dan ruang tertutup. Ada juga ruang tematik dan ruang masterpiece yang menampung karya-karya Sunaryo dan karya-karya seniman lainnya, baik berupa lukisan maupun patung.
SSAS didirikan oleh Sunaryo dengan maksud menjadikannya sebuah ruang publik yang terbuka untuk berbagai ekspresi kesenian. Sejak pendiriannya pada tahun 1998, pelbagai jenis kegiatan telah berlangsung mulai dari pameran seni rupa, pementasan seni pertunjukan, konser musik, pemutaran film, diskusi, lokakarya, kompetisi untuk anak-anak, pembacaan puisi dan lain sebagainya. Semua itu diselenggarakan dengan tujuan menghadirkan praktik seni sebagai suatu wahana untuk memahami pelbagai persoalan kebudayaan terkini, dan kehidupan manusia secara lebih luas.
Sunaryo mengungkapkan bahwa ia hanya ingin memberikan sesuatu terhadap dunia seni rupa, terutama untuk para seniman muda. Karena itu sebagian besar program seni rupa yang terselenggara difokuskan pada karya-karya seniman muda, atau seniman-seniman sebelumnya tidak terekspos dengan baik dalam perbincangan publik.  Salah satu program yang diiinisiasinya untuk memunculkan seniman-seniman muda adalah lewat program Bandung New Emergence yang saat ini sudah menginjak angkatan ketiga.
“Sejak awal saya ingin bahwa masyarakat seni di Kota Bandung punya tempat untuk mengapresiasi karya seni rupa, sebagaimana yang terjadi di Eropa. Berkaitan dengan itu apa yang yang saya buat ini saya persembahkan untuk masyarakat Bandung. Di Selasar Sunaryo Art Space ada ruang utama yang menyimpan karya seni yang saya buat. Masyarakat bisa menikmatinya dengan cara mengapresiasinya,” ucap Sunaryo. “Program pementasan karya seni mulai dari teater, baca puisi, seni tari, dan musik merupakan hasil kerjasama kami dengan lembaga-lembaga seni, baik yang ada di Kota Bandung maupun di luar Kota Bandung, bahkan hingga organisasi internasional macam UNESCO (Badan PBB di bidang pendidikan). Dalam bidang seni rupa ada juga program pelatihan menjadi kurator atau penyelenggaraan pameran seni rupa yang profesional, mulai dari menyiapkan katalog hingga membersihkan WC, yang ada di sebuah tempat pameran lukisan. Pendeknya, profesionalisme itu harus jadi acuan. Tanpa itu, kita tidak akan pernah maju dalam bidang apapun,” lanjutnya menegaskan pentingnya integritas profesionalisme dalam berkarya bagi para seniman.
Galeri SSAS merupakan salah satu cita-cita Sunaryo yang menjadi kenyataan. Baginya, rasa ingin berbagi ilmu itu telah tertanam sejak ia masih kecil. Sunaryo mengenang ketika masa kecilnya ia dan keluarga di kampung, rasa berbagi kepada para tetangga baik berupa makanan atau pun hal lainnya merupakan energi penting yang mendasari berdirinya galeri SSAS.
“Galeri ini dibangun bukan berdasarkan nurutin apa yang dilakukan orang lain, tapi murni keinginan saya yang sejak kecil sudah dididik untuk berbagi sesuatu. Dengan galeri ini, saya ingin berbagi ilmu dan menjadikannya manfaat,” ucap Sunaryo. “Cita-citanya sudah lama,” kenangnya. Sampai suatu saat ketika kehidupannya semakin mapan, istrinya mengingatkan kembali impian suaminya: “Katanya mau membangun galeri?”
Kini, galeri yang sudah berdiri lebih dari satu dekade ini, masih menjadi salah satu tonggak eksistensi dunia seni rupa, baik Bandung maupun Indonesia. Salah satunya ditandai dengan pameran dan peluncuran buku “A Decade of Dedication” pada 5 September 2008 lalu yang membuktikan dedikasi Sunaryo terhadap perkembangan dunia seni rupa. Dalam acara pembukaan pameran tersebut bahkan penyair Goenawan Mohmad dalam pidato pembukaannya menyebut Selasar bagaikan permata di Kota Bandung.
“Semua yang kami tampilkan di sini (galeri SSAS) untuk publik seni di Kota Bandung khususnya dan rakyat Indonesia pada umumnya. Saya berharap dengan adanya pementasan seni maupun pameran seni rupa di sini, hal itu bisa memicu daya kreatif para seniman Kota Bandung untuk berkarya lebih giat lagi. Hanya dengan cara semacam inilah saya bisa turut membangun iklim berkesenian di Kota Bandung yang saya cintai ini,” ujar Sunaryo.

Cari Blog Ini

Entri Populer

Image and video hosting by TinyPic
Diberdayakan oleh Blogger.