Senin, 10 Januari 2011

“Anda lihat pertunjukan di saung ini, suatu saat pertunjukan angklung ini akan mendunia. Kita tunggu saja”   (Udjo Ngalagena, 5 Maret 1929 - 3 Mei 2001)

Kota Bandung lekat di benak banyak orang sebagai tempat wisata kuliner dan alam. Bandung pun saat ini tengah membangun reputasi sebagai salah satu kota kreatif di Indonesia sejak ditunjuk sebagai pilot project pengembangan kota kreatif di Asia Timur pada tahun 2007. Ironisnya, sulit sekali ditemui di kota ini sebuah tempat pertunjukan kesenian dan kebudayaan yang memadai. Lebih dari itu, akan lebih sulit lagi ditemui tempat pertunjukan yang secara rutin menampilkan kesenian dan kebudayaan Sunda. Beruntung, kota ini masih memiliki Saung Angklung Udjo (SAU), sebuah tempat yang selama puluhan tahun secara konsisten melestarikan dan mengembangkan kesenian dan kebudayaan Sunda khususnya angklung. SAU memiliki reputasi tingkat internasional dan menjadi tempat tujuan utama di Bandung bagi wisatawan dan orang-orang yang tertarik kepada kesenian dan kebudayaan Sunda.  

3 in 1: Seniman, Entrepreneur, Guru
SAU tak bisa dilepaskan dari nama almarhum Udjo Ngalagena (1929 - 2001) sebagai pendirinya. Udjolah yang membawa semangat dan prinsip yang menjadikan SAU sebagai sebuah tempat dimana kebudayaan dan kesenian Sunda dapat hidup dan mendapat penghargaan yang seharusnya. Angklung sangat dekat pada kehidupan Udjo sedari kecil. Angklung, calung, atau pun alat musik tradisional Sunda lainnya merupakan barang yang sangat umum di desa di mana Udjo tinggal. Alat-alat musik ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan sering dipakai untuk kegiatan khitanan, hajatan, dan lain-lain. Pengalaman masa kecil inilah yang memupuk kecintaan Udjo terhadap kesenian dan kebudayaan Sunda yang kelak memicu hasratnya untuk mendedikasikan dirinya pada pengembangan angklung sepanjang hidupnya.

Udjo memulai karirnya di bidang seni sebagai guru kesenian Sunda di beberapa sekolah. Meskipun berposisi sebagai guru, Udjo tidak pernah berhenti mengasah kemampuan seninya dan tak ragu untuk belajar langsung dari para ahlinya, seperti: Mang Koko ahli Kecapi; Rd.Machyar Angga Kusumahdinata guru gamelan; dan Daeng Soetigna, Sang Bapak Angklung Jawa Barat. Pertemuan dengan Daeng Soetigna ini semakin mengukuhkan kecintaan Udjo terhadap angklung. Udjo seringkali berkunjung ke rumah Daeng di Jalan Mangga Bandung dan berdiskusi mengenai angklung. Keakraban pun terjalin lewat diskusi-diskusi ini. “Kami menikmati pertemuan-pertemuan seperti ini, terlebih menggunakan bahasa Belanda.” Ungkap Udjo. Udjo kemudian menjadi salah satu orang kepercayaan Daeng dan seringkali memimpin pertunjukan angklung atas nama Daeng. Daeng banyak memberikan dukungan dan bantuan saat Udjo mulai mengembangkan SAU dan kepada Udjolah Daeng menyerahkan tongkat estafet untuk melanjutkan upaya mempopulerkan angklung ke seluruh dunia.
 
SAU didirikan pada tahun 1966 oleh pasangan suami istri Udjo Ngalagena dan Uum Sumiati (alm). Sebidang tanah berukuran 150 meter persegi di jalan Padasuka Bandung menjadi tempat SAU berdiri. Demi mendapatkan tanah ini Udjo harus menjual pakaian yang ia miliki dan meminjam sejumlah uang kepada kakaknya. Udjo dan keluarganya hidup sangat sederhana di masa-masa awal SAU. Bagi Udjo, yang terpenting adalah pendidikan anak-anaknya dan pengembangan SAU karena itu pengeluaran diutamakan untuk dua kebutuhan tersebut. “Kami seringkali makan nasi yang disirami kuah pecel, lengkap dengan sayur mayur dari belakang rumah, Bapak lebih mementingkan pendidikan kami, anak-anak harus sekolah” Kenang Hetty Seniwati, anak ke-4 Udjo.

Di masa awal SAU ini Udjo harus bekerja keras dengan berbagai kesibukannya. Selain sebagai seorang guru, ia juga harus membagi waktu dan tenaga sebagai seorang kepala keluarga dan entrepreneur. Disinilah Udjo diuji kekuatan pikiran, mental, dan fisiknya terutama untuk menghadapi dua tantangan besar yang dihadapi SAU. Tantangan pertama adalah memenuhi permintaan angklung yang berlipat ganda karena lahirnya SK Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan pada tahun 1968 yang berisikan keputusan untuk menjadikan angklung bagian dari pelajaran seni budaya di sekolah-sekolah. Lahirnya SK ini tak lepas dari upaya Daeng Soetigna dan tokoh Sunda Oeyeng Soewargana. Tantangan kedua datang dari Daeng Soetigna yang menyarankan agar SAU menjadi lebih dari sekedar tempat produksi angklung tapi juga sebagai tempat pertunjukan angklung dan seni Sunda yang dapat menjadi obyek wisata budaya di Bandung.
Cukup lama bagi Udjo untuk dapat mewujudkan tantangan yang kedua ini. Saat itu di Bandung banyak tempat yang secara rutin menghadirkan pagelaran seni Sunda sudah gulung tikar. Tempat yang masih ada pun pada umumnya tidak memiliki fasilitas yang memadai. Hal ini tentu sulit menarik wisatawan terutama wisatawan asing. Udjo semakin tertantang dengan kenyataan ini dan keinginannya semakin membara untuk mengadakan pertunjukan seni yang menarik banyak orang terutama wisatawan asing. Berkat kegigihan Udjo, di bulan September 1968 datanglah rombongan wisatawan asing pertama yaitu 6 turis asal Prancis. Mereka terpuaskan dengan penampilan angklung dari SAU dan terkesan dengan nuansa tradisional dan alami di SAU. Berangkat dari pengalaman ini, kedepannya Udjo mengembangkan SAU sebagai tempat wisata budaya dan seni Sunda yang menawarkan nuasana ketradisionalan dan kealamiahan khas Sunda dengan berbagai elemen-elemen bambu. Selain tempat produksi dan pertunjukan angklung, SAU juga merupakan tempat pendidikan angklung. Sebagai seorang pendidik, Udjo menyadari betul bahwa inilah fungsi terpenting yang diemban oleh SAU. Hanya melalui pendidikan kepada generasi selanjutnya, angklung dapat terus dilestarikan. Hanya melalui pendidikan, meski tak ada Udjo pun SAU masih dapat menjalankan misinya mempopulerkan angklung.

Udjo sangat menaruh harapan kepada anak-anaknya untuk melanjutkan SAU. Ia mendidik mereka sepenuh hati dan ia berikan pada mereka semua ilmu mengenai angklung, kesenian Sunda, dan lebih dari itu, ilmu dalam menjalani hidup. Sebagai seorang guru dan ayah, Udjo terkenal keras, galak, dan sangat disiplin sampai-sampai ia dijuluki “Maung” atau Harimau. “Sangat disiplin. Istirahat lima menit ya harus lima menit.” Ujar Rina, anak ke-7 Udjo. Lain lagi cerita dari Sam, anak ke-2 Udjo: “Saya pernah diminta latihan hingga tengah malam padahal saya sudah sangat ngantuk dan capek, Bapak bisa marah kalau saya berhenti tapi lagu yang dimainkan belum hapal.” Tapi bukan berarti Udjo tidak memiliki kebijaksanaan dan rasa kasih sayang. Pernah ia turun ke dalam sumur sedalam 18 meter untuk mengambil sendal Hetty Seniwati yang kala itu berusia 10 tahun. Saat anak-anaknya mulai ikut mengelola SAU, seringkali Udjo beradu argumentasi dengan mereka, namun tak jarang Udjo mengalah dan menuruti keinginan anak-anaknya. Inilah Udjo, seorang seniman dengan etos kerja yang tinggi. “Berkesenian boleh bebas, tapi hidup ada aturannya” Pesan Udjo suatu saat kepada seorang sahabat.



 
Kaulinan Urang Lembur
SAU mengadopsi penuh filosofi angklung Daeng Soetigna yaitu 5M: Mudah, Murah, Mendidik, Menarik, dan Massal. Belakangan Udjo menambahkan satu unsur lagi yaitu Meriah. Filosofi ini juga yang mendasari acara pertunjukan di SAU yang Udjo beri nama Kaulinan Urang Lembur. Acara ini bisa dibilang senjata utama Udjo untuk mempopulerkan angklung dan berbagai kesenian Sunda lainnya. Secara beruntun pengunjung akan disuguhi berbagai kesenian Sunda dari mulai wayang golek (uniknya, penonton diperlihatkan semua aktivitas dalang dengan membuka kain penutup di bawah batang tempat menancapkan wayang), arak-arakan pesta khitanan (bagian dari masa kecil Udjo yang sangat membekas bagi Udjo sehingga selalu ia sertakan di pertunjukan), peragaan alat musik arumba (alat musik yang terbuat dari bambu dan dimainkan dengan cara dipukul sambil berdiri), Tari oray-orayan (permainan anak kecil di desa pada malam bulan purnama), dan pertunjukan musik angklung. Lagu-lagu yang dibawakan oleh angklung ini sangat beragam, dari mulai lagu daerah Sunda maupun daerah lain di Indonesia sampai lagu-lagu barat yang populer dan kontemporer, dari mulai lagu yang mudah untuk dimainkan sampai lagu dengan komposisi rumit seperti Blue Danude ciptaan Strauss.

You hear and you will forget, you see and you will remember, you do and you will understand (kamu dengar dan kamu akan lupa, kamu lihat dan kamu akan ingat, kamu lakukan dan kamu akan mengerti). Udjo sangat memahami prinsip ini, karena itu untuk memberikan pengalaman yang seutuhnya tentang angklung maka ia tidak hanya mempertunjukan tapi juga mengajak para penonton untuk memainkan angklung. Dari sinilah penonton baru bisa merasakan kemudahan, keindahan, dan kebersamaan dalam memainkan angklung. Udjo selalu berusaha menghilangkan jarak antara penonton dengan penampil dengan sebisa mungkin melibatkan penonton dalam pertunjukan.



Pertunjukan Kaulinan Urang Lembur ini tidak selalu sama materinya. Ada saja ide-ide segar dari Udjo sehingga pertunjukan menjadi menarik dan tidak monoton. Suatu waktu Udjo yang senang memelihara burung pernah tampil bersama burung-burung peliharaannya. Kemudian melihat anak-anaknya berkelahi ia pun mengajari mereka pencak silat kemudian ditampilkan di pertunjukan. Di waktu lain kala ia melihat rombongan kuda lumping melintas rumahnya secara spontan ia mengajak mereka untuk tampil dalam pertunjukan SAU. Udjo ingin pertunjukannya ini punya ciri khas dan dapat membekas di hati penonton sehingga ia selalu melakukan inovasi-inovasi untuk terus meningkatkan kualitas pertunjukannya.
Globalisasi Angklung
“Anda lihat pertunjukan di saung ini, suatu saat pertunjukan angklung ini akan mendunia. Kita tunggu saja.” Rangkaian kata-kata yang sangat kuat  ini dilontarkan Udjo pada tahun 1969 di depan kru film dari Prancis dan Gumelar, pemandu wisata Dinas Pariwisata Jawa Barat. Kini, beberapa dekade setelahnya, setiap hari di SAU selalu ada saja rombongan turis lokal dan luar negeri yang datang berkunjung. SAU pun mempunyai ratusan murid yang setiap sore datang setelah sekolah formal mereka sehingga SAU yang sekarang mempunyai luas sekitar 1000 meter persegi kadang terasa terlalu kecil. Tercatat orang-orang penting pernah menjadi pengunjung SAU, seperti: Gubernur Jakarta Ali Sadikin, Presiden RI Megawati dan Taufik Kiemas, Videl Ramos dari Filipina, HRH. MAhachakri Sirindhorn (Putri Kerajaan Thailand), Jenderal West Moreland dari Amerika Serikat, Ibu Negara Singapura, dan Ibu Negara Gambia. SAU lebih dari sekedar harum di kandang dan telah melanglang buana di berbagai belahan dunia. SAU seringkali dikirim sebagai duta untuk memperkenalkan budaya Indonesia di luar negeri maupun di saat Indonesia menjadi tuan rumah acara berskala internasional. SAU juga menjadi tumpuan produsen angklung dengan produk angklung yang telah tersebar di Asia, Eropa, mau pun di Amerika Serikat.
Perjuangan Udjo yang gigih dan konsisten telah membuahkan hasilnya. Pemerintah memberikan penghargaan tertinggi Upakarti atas pencapaian Udjo pada tahun 1997. 4 tahun kemudian, Udjo pun berpulang ke Rahmatullah. Ia bisa meninggal dengan tenang, karena meski ia telah tiada, perjuangannya tidak akan pernah berhenti. Anak-anaknya saat ini telah menggantikannya di garis depan SAU. Udjo Ngalagena selamanya akan dikenang sebagai tokoh besar Jawa Barat, sebagai seorang seniman, entrepreneur, dan pendidik yang memajukan angklung dan SAU akan menggunakan apa yang ditinggalkan Udjo untuk terus memperjuangkan kemajuan angklung. Kini, salah satu upaya terbesar untuk mempopulerkan angklung tengah dilakukan oleh SAU dengan memperjuangkan angklung untuk diakui sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO. Apabila semuanya berjalan lancar, di bulan November 2010 secara resmi angklung akan dikukuhkan sebagai Warisan Budaya Dunia. Mimpi Udjo untuk menduniakan angklung akan menjadi kenyataan yang tak terbantahkan lagi, Semoga!  
Udjo Ngalagena
(5 Maret 1929 - 3 Mei 2001)
Sekolah Guru Bagian B (1947)
Sekolah Guru Bagian A (1950)
Pendiri Saung Angklung Udjo (1966)







Cari Blog Ini

Entri Populer

Image and video hosting by TinyPic
Diberdayakan oleh Blogger.