Senin, 10 Januari 2011
"You've got to do what you wanna do...(Do what you wanna do), Say what you wanna say...(Say what you wanna say), And don't be afraid..." - Do What You Wanna Do, by Mocca.
Helvi Sjafruddin
Kalimat di atas adalah petikan dari lirik lagu berjudul “Do What You Wanna Do,” sebuah lagu ceria dengan aura bersemangat dari Mocca. Mocca sendiri adalah sebuah band dari Bandung yang membawakan genre pop/jazz/swing, band yang masuk ke dalam komunitas musisi cutting edge (baca: indie/underground). Band ini sendiri telah memantapkan diri sebagai sebuah kekuatan musik yang disegani dengan sejumlah prestasi luar biasa dalam level internasional. Salah satunya, mereka mampu menghasilkan komunitas fans di Korea Selatan, dengan jarak lebih dari 5000 kilometer dari Bandung, tempat di mana band ini berasal dan kota tempat mereka bernaung di bawah label Fasfforward (FFWD) records.

Petikan lirik tadi juga merupakan moto hidup bagi Helvi Sjafruddin, otak di belakang lahirnya FFWD records, sebuah label rekaman yang telah menghasilkan sejumlah album dari musisi-musisi hebat yang kebanyakan berasal dari komunitas music independen/underground. Helvi mendirikan label rekaman ini bersama dua orang rekannya, Achmad Marin dan Didit Aditya pada tahun 1999. “Kami, sebagai label melakukan apa yang pengen kami lakukan, terus melakukan hal itu, dan kami enggak pernah merasa takut,” ujar Helvi.
Di tengah-tengah dominasi  perusahaan-perusahaan raksasa terhadap industri musik, Helvi dan FFWD records berani menantang label-label mapan dengan menawarkan pilihan artis yang segar yang melawan arus selera pasar. FFWD records merilis musik dari artis-artis yang disukai oleh mereka dan memprioritaskan idealisme music ketimbang mementingkan kesuksesan komersial. “Modal terbesar kami adalah nekat, dan kami percaya kami punya selera musik yang bagus,” jelasnya. Helvi dan FFWD memimpikan agar musisi-musisi Indonesia mau untuk lebih menghasilkan musik yang bagus dan jujur, ketimbang melayani selera pasar. “Makanya FFWD records hadir untuk mencapai tujuan tersebut. Kami ingin menawarkan musik yang bagus kepada orang-orang, mereka yang mau tahu banyak tentang musik terutama karya musisi lokal.”  
Namun, jangan salah. Menjadi label yang mengutamakan idealisme, bukan berarti tidak bias menghasilkan keuntungan finansial. Album pertama Mocca, misalnya, mampu meraih angka penjualan melebihin 50.000 kopi, sebuah angka yang sangat baik untuk penjualan di negara yang belum memiliki undang-undang dan penerapan hokum yang jelas terkait HAKI. Di masa eranya invasi british-pop, musik melodic punk rock, dan lagu melayu local, Mocca berhasil masuk di tengah-tengah pasar music, memuaskan khalayak khusus yang mendambakan musik yang baru dan berbeda.
Apakah kunci keberhasilan Mocca? Selain kerja keras dari band dan musik yang mereka mainkan, FFWD records juga memainkan perannya sebagai label rekaman yang mendukung Mocca. FFWD records mengurus keperluan-keperluan band mulai dari promosi, marketing, manajemen media, produksi, dan event-organizing untuk mengukir langkah kesuksesan Mocca. Di bawah pimpinan Helvi, para personel FFWD records menjalankan peran manajerial, menjadi A&R, memproduseri album, dan bahkan menjadi funder untuk operasional label. “Semua pekerjaan kami handle bertiga, biaya operasional kami cari secara mandiri, dan memproduseri album juga,” ujar Helvi menjelaskan.
Mocca, telah berhasil memahat reputasi mereka sebagai duta musik Indonesia di negara lain, contoh mudahnya adalah penerimaan yang baik di Korea dan juga Australia. Di negara-negara lainpun musik mereka dapat diterima secara luas, walaupun, mungkin hanya terbatas pada komunitas musik tertentu. Kesuksesan ini, juga berarti kesuksesan bagi label, FFWD records, dan Mocca bukanlah satu-satunya yang berada di bawah bendera FFWD records.  The Super Insurgent Group of Intemperance Talent (The S.I.G.I.T), adalah artis lain yang bergabung bersama FFWD records, band rock yang menyajikan edgy attitude dengan komunitas fans yang kuat di Bandung. The S.I.G.I.T secara bertahap mampu mendongkrak reputasi mereka hingga meraih pengakuan secara global. Mereka mungkin adalah satu dari sedikit band Indonesia yang diundang untuk manggung dalam sejumlah event skala internasional.
The S.I.G.I.T pernah mengguncang panggung SXSW (South by South West) di Austin, Texas, Amerika Serikat, mengadakan tur California dan Hong Kong pada tahun 2009. Dua tahun sebelumnya, mereka sukses menjalankan konser keliling Australia setelah label ‘Caveman!’ dari  negara Kangguru tersebut merilis album The S.I.G.I.T di Aussie. Reputasi mereka pun mendapatkan sejumlah expose media di berbagai belahan dunia, bahkan, NME, sebuah media music kenamaan dari Inggris menyebut music The S.I.G.I.T sebagai  “Scorching, gonzo Zep Rock from our hot new Indonesian Friend.”
Baik Mocca maupun The S.I.G.I.T memang telah menunjukkan sejumlah pencapaian yang luar biasa, sebuah daftar yang bahkan akan membuat pencapaian seorang Ahmad Dhani nampak kerdil. Selain Mocca dan The S.I.G.I.T, FFWD mewakil daftar panjang artis-artis cutting-edge dengan variasi genre yang sangat beragam. Homogenic, trio electronic-pop yang menawarkan pencitraan yang cool; Polyester Embassy, kelompok music eksperimental dengan music yang eclectic, Rock And Roll Mafia (RNWM), entitas music elektronik yang menambahkan elemen rock dan distorsi, memberikan warna baru dalam scene clubbing, dan Hollwood Nobody, band dengan genre pop-jazz/bossanova. Keempat artis yang juga merupakan artis telah memantapkan diri sebagai musisi yang mapan dalam scene music independen, dengan jam terbang yang tinggi dalam sejumlah panggung local dan bahkan Internasional. Konser di Singapura dan Australia oleh Homogenic, penampilan di London oleh RNRM, dan masih banyak lagi pencapaian para artisnya yang menambahkan perolehan prestasi dari FFWD records.
FFWD records tidak pernah memperlakukan artis mereka sebagai sebuah komoditas . “Mereka adalah teman kami juga. Kami bergaul dengan mereka hamper tiap hari, berbagi ide untuk kemajuan bersama, dan praktis bareng-bareng untuk urusan bisnis,” jelas Helvi. FFWD records selalu berusahan untuk menyelaraskan kepentingan artis dan tujuan bisnis dari FFWD. “Titik temu dari hal-hal yang pengen dicapai oleh band dengan tujuan kamilah yang menjadi landasan program perencanaan kami terhadap tiap artis. Apakah mereka pengen go International, merancang serangkaian tur konser, ingin kerja sama distribusi album di luar negeri, dll.,” tambah Helvi.
Riko Prayitno, lead guitarist Mocca mengaanggap FFWD records sebagai partner bisnis yang kompeten dan juga teman yang menyenangkan. “Mocca dan FFWD records praktis tumbuh-kembang bersama karena kami adalah artis pertama yang gabung dengan label ini,” papar Riko. Menurutnya lagi, kerja sama Mocca dengan FFWD records ibaratnya sebuah hubungan yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Riko mengutarakan kecerdasan FFWD akan treatment label ini terhadap artis-artisnya. Musisinya memiliki jenis dan tipe yang sangat berbeda, dan membutuhkan perlakuan yang berbeda pula. “So far so good, FFWD mampu memuaskan artis-artisnya. Bahkan pagi musisi-musisi baru, banyak sekali yang menganggap jika bergabung dengan FFWD adalah sebuah prestasi yang bagus.” Menurut Riko lagi, tentunya Helvi dan FFWD records akan semakin ketat menyeleksi musisi-musisi yang akan mereka ajak untuk gabung. Namun secara tidak langsung, ini adalah tolak ukur bahwa FFWD records telah dianggap sebagai label rekaman yang telah mendapatkan tempat tersendiri di komunitas music.
Apakah kunci kesuksesan FFWD? Helvi berujar bahwa lirik lagu yang telah dikutip sebelumnya Mocca adalah salah satu inspirasinya. Namun, doing what we wanna do, bukan sekedar mengerjakan yang diinginkan, namun lebih kepada mengerjakan sesuatu yang disukai. Helvi dengan FFWD records memang memiliki passion terhadap music. “Mengerjakan sesuatu yang kita sukai, adalah mendedikasikan diri secara total terhadap hal tersebut, baik itu meneteskan keringat, bahkan berdarah-darah jika perlu,” ujarnya. Buah manis dari kerja keras Helvi bersama FFWD records dapat dilihat dari kadar kesusksesan artis-artisnya. Apa yang sudah dilakukan Helvi bersama FFWD records, awalnya hanyalah sekedar mimpi dari seorang biasa-biasa, yang ingin menjalani mimpinya. “Kerja saya bersama FFWD records, adalah mimpi saya,” jelasnya.
Dan, rupanya memiliki pekerjaan impian rupanya masih belum cukup bagi Helvi dan FFWD records. Meskipun dengan begitu banyaknya raihan yang dimiliki, FFWD tidak merasa puas. Mereka memutuskan untuk membuat sebuah anak perusahaan yang diberi nama FFWD event division, sebuah unit usaha yang dibangun untuk melayani kebutuhan promosi artis-artis FFWD dalam bentuk event-event music. Launching Album, acara music bekerja sama dengan organizer lain, adalah contoh dari beberapa pekerjaan yang ditangani oleh FFWD event Division.
Buah karyanya, diantaranya adalah ‘Les Voila!’ sebuah event musical dalam skala kecil yang dibuat untuk mempromosikan artis-artis FFWD, sekaligus memberi kesempatan pada musisi-musisi baru untuk tampil. Selanjutnya, ‘Les Voila!’ berubah menjadi Coup de Neuf, sekarang sudah sampai pada penyelenggaraan yang ke tujuh pada bulan Mei 2010. Event rancangan FFWD event division ini sekarang juga menampilkan musisi-musisi Non-FFWD dan bahkan musisi dari luar Bandung. Melepas tradisi dari event-event yang selalu menyajikan musisi FFWD, penyelenggaraan terkini menyertakan musisi dari Jakarta (Everybody Loves Irene, Monday Math Class, Funny Little Dream, and Tika and The Dissidents) dan Frau, a solo act from Yogyakarta.
Dalam skala yang lebih besar, Helvi dan juga pentolan FFWD lainnya berkolaborasi dengan orang-orang dari Aksara records Jakarta untuk membentuk Soundshine Events. Serupa seperti FFWD event division, Soundshine merancang sejumlah gigs music namun dalam skala yang jauh lebih besar. Biasanya dalam bentuk konser besar dengan angka penonton menembus ribuan.  Event terkini yang dirancang oleh Soundshine adalah event music yang menghadirkan Duao indie pop asal Norwegia, Kings of Convenience dan seorang singer/songwriter asal Swedia, Jens Lekman. Penampilan dari dua musisi asal luar negeri ini, dibuka oleh band local Hollywood Nobody dan White Shoes and the Couples Company.
“Kami enggak pernah mau jalan di tempat dan enggak mengerjakan apa-apa. Makanya perusahaan (label rekaman) ini kami beri nama fast forward, karena kami akan selalu berkembang, dan melakukan fast forward menuju masa depan yang lebih baik,” terang Helvi.


Cari Blog Ini

Entri Populer

Image and video hosting by TinyPic
Diberdayakan oleh Blogger.