Senin, 10 Januari 2011
11.32 | Diposting oleh
blankmoon |
Edit Entri
“Orang mengenalnya dari panggung teater dan layar kaca sebagai sosok yang lucu dan menghibur. Lakonnya yang impersonating Presiden zaman orde baru dan Presiden ‘Si Butet Yogya’ begitu khas dan membekas pada dirinya. Butet Kartaredjasa, sosok seniman kreatif dan inspiratif karena konsistensinya pada prinsip dan nilai-nilai yang dipegangnya sejak masih muda.”
Atmosfer seniMas Butet menyenangi teater semenjak duduk di bangku SMSR (Sekolah Menengah Seni Rupa) DIY dan tergabung dalam kelompok teater (Kita-Kita, SSRI, Sanggar Bambu) sejak 1978. Ia melanjutkan pendidikannya pada tahun 1982 ke Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia, jurusan Seni Lukis. Saat keinginannya pada senirupa menjadi bias dan dikalahkan oleh keinginannya untuk menjadi seorang aktor yang baik, saat itulah ia mulai menyadari bahwa seni teater dan sastra adalah pilihan jalan hidupnya. Hingga akhirnya ia meninggalkan bangku kuliah dan menekuni teater serta aktif menulis mengenai seni dan budaya di beberapa surat kabar.
Pilihan hidup
Ayahnya, Alm. Bagong Kussudiardjo dikenal sebagai seorang pelukis, penari sekaligus koreografer terkenal. Tak mengherankan apabila kakak-kakaknya pun mengikuti jejak sang ayah. Tetapi berbeda dengan kakaknya, ia justru memilih untuk menekuni bidang yang lain. Karena jika ia memilih untuk menari, maka ia merasa tidak akan punya kebanggaan tersendiri dengan hasil karyanya.
Sedari muda telah terlihat keinginan dan prinsip yang kuat dari dalam dirinya, yang tidak dapat dipengaruhi oleh orang lain. Ia ingin lepas dari bayang-bayang dan ‘kerangkeng’ ayahnya. Ia ingin mendapatkan kebanggaan sebagai seorang aktor, karena apabila ia berhasil orang akan menilai bahwa itu bukan semata-mata karena ‘katrolan’ ayahnya tapi karena pilihan hidupnya sendiri. Hanya satu hal yang ingin dicontohnya dari ayahnya waktu itu, “Saya ingin menjadi ayah saya sewaktu masih muda, yang susah payah untuk menjadi seorang seniman, bukan disaat beliau sudah terkenal”.
Pilihan bukan berarti tanpa resiko. Sadar dengan pilihannya maka ia pun sadar akan tidak adanya dukungan dan fasilitas dari ayahnya. Ia lebih memilih untuk belajar dari orang lain. Ia memilih untuk tersiksa dan terhina. Bahkan sering ia bersama teman-teman teater sudah berlatih keras selama 3-4 bulan, namun pada saat dipentaskan ternyata kurang mendapat tanggapan dan apresiasi karena sepinya penonton. Perjuangannya ia rasakan sendiri. Tantangannya ia nikmati sendiri. Sengsara pun menjadi teman perjuangannya. Lalu ketika akhirnya ia diakui dan mendapatkan beberapa penghargaan atas penampilannya sebagai pemain teater—antara lain sebagai aktor terbaik tingkat SLTA se-DIY tahun 1979—ayahnya pun tidak hadir disana. Meski kurangnya apresiasi dari ayah dan kakak-kakaknya ia sama sekali tidak berkecil hati dan tidak ingin berpaling dari seni teater yang sangat ia cintai. Ia selalu merasakan kepuasan tersendiri dari setiap lakon yang ia mainkan, tidak pernah ada yang dibeda-bedakan.
Seniman rasional dan kreatif
Seseorang pekerja seni juga harus memiliki basis ekonomi. Ketika penghasilan dari teater dirasa mulai seret untuk menghidupinya dengan hadirnya pasangan hidup dan anak-anak buah cintanya. Mas Butet pun menjalankan profesi sebagai jurnalis dan usahanya di bidang periklanan (Galang communication). Namun meski teater pada saat itu tidak begitu menghasilkan, ia tidak pernah menganaktirikannya, ketiga profesi dijalankannya berbarengan. Ia justru memanfaatkan networking dari pekerjaannya untuk mengangkat seni teaternya.
Apa kreatif menurut mas Butet? “Ya kreatif itu berani melihat sesuatu dari segala sisi, contohnya aku melihat kamu ini lho dari depan, ya mboseni. Sekali kali aku juga harus berani melihat kamu dari belakang, samping, bawah. Ya tho? Selain itu, harus berimajinasi tanpa batas”. Proses kreatif ini adalah budi daya akal yang mengakari sebuah kebudayaan. Menurutnya, produk kebudayaan tidak bisa dan bukan untuk diindustrikan! Reproduksi dari pencapaian kebudayaannyalah yang bisa diindustrikan. Sebagai contoh, pertunjukan teater difilmkan dan dicetak dalam CD untuk kemudian dijual ke masyarakat.
Sukses itu
Perjuangan memang selalu berbuah manis. Setelah 32 tahun berkarya, saat ini wajahnya banyak menghiasi layar kaca. Sejak lakonnya sebagai sang presiden orde baru di tahun 1998 membuat masyarakat terhibur. Seakan ia menjadi pionir yang berani menyentil mantan orang nomer satu di Indonesia saat itu. Sekarang orang telah mengakuinya sebagai seniman yang handal. Pentas teater dan monolognya tidak lagi sepi penonton. Hidup pun tidak lagi sengsara dan menderita.
Sepeninggal sang ayah tahun 2004 silam, ia tidak lantas seperti anak ayam kehilangan induknya, karena dirinya besar atas namanya sendiri. Ia tetap aktif berkarya dan berperan dalam yayasan Bagong Kussudiardjo, yang memiliki misi untuk mendekatkan seni dengan masyarakat. Menjembatani agar masyarakat sadar akan potensi kreatif yang ada di dalam diri masing-masing, karena seni tanpa masyarakat tak ada artinya.
Satu hal yang masih ingin dicapainya saat ini, ia ingin bisa membuat anak-anak muda berkontribusi untuk mengabdi kepada kebudayaan. Ia merasa miris ketika melihat banyak anak muda sekarang yang pragmatis, maunya enaknya doang, kehilangan etos kerja dan mementingkan hasil daripada usaha. Ada salahnya orang tua jaman sekarang yang selalu mengukur keberhasilan dan kesuksesan hanya dari aspek ekonomi semata. Padahal kebahagiaan ini tak dapat diukur oleh nilai ekonomi.
Lalu apakah setelah semua yang telah dicapai seorang Butet kini membuatnya menilai dirinya sukses? Ternyata tidak. Buatnya, sukses itu abstrak, tidak bisa disamakan antar perorangan. “Sekarang ini saya melihat diri sendiri bukan sukses, tapi semakin percaya diri, percaya diri untuk memilih kesenian sebagai jalan hidup”.
dikutip dari http://www.indonesiakreatif.net/index.php/id/ceritasukses/read/butet-kartaredjasa-1/0
Cari Blog Ini
Entri Populer
-
Istilah ini mulai digemari oleh anak-anak yg biasanya yang berkecimpung dipersepedahan, orang-orang kita biasa menyebutnya “Sepeda-Ronteng...
-
Mekanik Hantu Laut sedang bekerja/ Foto-foto: Novri TNOL Tak bisa dipungkiri, terkadang para bikers kurang begitu suka dengan tampilan asl...
-
Foto: Firmansyah/tnol BAGI Pencinta pesawat terbang, pastinya miniature pesawat terbang menjadi incaran mereka. Bahkan mereka akan berbur...
-
"Latar belakang saya seni grafis, belajar di Indonesia dan Jerman. Tapi bagi saya media itu tidak cukup. Ada media lain seperti insta...
-
“Bagi saya dunia seni rupa itu, apapun bentuk karya seni yang saya kreasi adalah merupakan hasil seni yang lahir dari dunia kontemplasi. H...
-
“Anda lihat pertunjukan di saung ini, suatu saat pertunjukan angklung ini akan mendunia. Kita tunggu saja” (Udjo Ngalagena, 5 Maret 1929 -...
-
Foto : Novriyadi MEMILIKI miniatur kereta api memang sangat mengasyikan, selain dapat bernostalgia dengan masa lalu, memiliki sebuah mini...
-
Iput (kanan) terlihat serius di bengkelnya/ Foto-foto: Safari TNOL Tempatnya tersembunyi di gang buntu yang sempit. Tapi, bengkel motor ya...
-
Pada akhir-akhir ini kita sering mendengar dan melihat berbagai bentuk karya dan usaha yang kreatif dan i...
-
“Saya percaya Tuhan seperti menanam chip di dalam setiap tubuh manusia. Kita dilahirkan untuk melakukan bidang tertentu. Tidak mungkin ras...
Diberdayakan oleh Blogger.