Minggu, 18 September 2011
Yogyakarta - Terdengar tepuk tangan meriah menyambut suara gerungan dari mesin backhoe yang dinyalakan. Dalam kondisi normal, suara gerungan backhoe mungkin hanya sebagai pertanda awal dimulainya aktifitas dalam sebuah proyek konstruksi. Namun malam itu, tanggal 16 Juli 2011, suara gerungan itu menggantikan suara sirene atau gong yang biasanya dibunyikan sebagai tanda resmi dibukanya sebuah perhelatan.

ART|JOG|11 yang berlangsung hingga tanggal 29 Juli 2011 memang bukan perhelatan biasa. Dimulai sebagai sebuah event pameran seni rupa yang merupakan bagian dari Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) pada tahun 2008, Heri Pemad yang mengorganisir event itu memutuskan untuk lepas dari FKY dan berdiri sendiri dengan nama Jogja Art Fair dengan mendirikan Heri Pemad Art Management (HPAM) sebagai lembaga penyelenggaranya. Ketidakbiasaan ini telah dimulai ketika nama Jogja Art Fair digunakan karena biasanya di art fair yang akan kita temukan adalah bilik-bilik pameran galeri yang memajang karya-karya seniman yang mereka wakili. Namun di Jogja Art Fair tidak ada bilik-bilik seperti itu. Semua karya seni dipajang seperti layaknya pameran seni rupa besar. Semuanya dihadirkan sama.

Pada tahun 2010 HPAM memantapkan diri untuk menjadikan perhelatan ini sebagai bagian dari pasar seni internasional. Seiring dengan mulai ditinggalkannya penggunaan istilah art fair oleh penyelenggara-penyelenggara art fair di dunia internasional, maka Jogja Art Fair berganti nama menjadi ART|JOG. Dengan nama baru itu HPAM tampil dan memposisikan ART|JOG dalam peta art fair internasional sebagai art fair-nya seniman. Di sini muncul lagi ketidakbiasaan karena biasanya dalam art fair yang memposisikan diri sebagai art fair-nya seniman, seperti Geisai yang diselenggarakan di Tokyo dan Miami oleh Kaikai Kiki milik Takashi Murakami, seniman berposisi sama seperti galeri-galeri yang menyewa bilik pameran di art fair.



Dalam Geisai, seniman mengurus bilik pamerannya masing-masing, mempunyai kesempatan untuk mempresentasikan karya mereka sebaik mungkin dan juga kesempatan untuk bertemu langsung dengan pengunjung termasuk kolektor karya seni dan pemilik atau direktur galeri serta kritikus seni. Namun ART|JOG diselenggarakan dengan menggunakan sebuah tema besar dan dikurasi layaknya pameran seni rupa. Cara penyelenggaraannya melalui open call bagi semua seniman yang kemudian diseleksi oleh departemen artistik. Karya-karya seniman yang lolos seleksi kemudian akan dipamerkan bersama-sama. Dalam hal ini dapat dilihat bahwa kemudian HPAM akan bertindak sebagai wakil seniman-seniman yang karyanya dipajang.

ART|JOG|11 yang dikuratori oleh Aminudin TH Siregar menghadirkan 241 karya dari 165 seniman yang diseleksi dari 3500 karya dari 1770 seniman yang mendaftar. Selain itu juga dihadirkan 2 commission works dari Eddie Prabandono dan Krisna Murti. Commission work dari Eddie Prabandono bersifat site specific dan merupakan tradisi dari ART|JOG untuk menghadirkan karya site specific yang bisa mengubah penampilan lokasi perhelatan. Dalam kesempatan ini Eddie Prabandono menghadirkan obyek berupa kepala bayi yang terbuat dari tanah liat dalam ukuran gigantik yang separuhnya berada di bawah permukaan halaman Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Karya yang berjudul "Luz Series"  dikerjakan sekitar 1 bulan karena harus menggali halaman TBY.


Pengunjung juga mendapat kesempatan untuk melihat beberapa karya seniman Indonesia yang sebelumnya belum pernah dipamerkan di Indonesia di bagian Special Presentation yang merupakan fringe event dari ART|JOG|11. Di sini ditampilkan karya-karya dari Ay Tjoe Christine, Budi Kustarto, Handiwirman Saputra, I Nyoman Masriadi, Jumaldi Alfi, Rudi Mantofani, dan Tisna Sanjaya. Juga merupakan fringe event adalah Project Presentation yang menghadirkan sejumlah proyek seni rupa yang masih berlangsung. Fringe event yang dikuratori oleh Grace Samboh ini menghadirkan 5 proyek yaitu; Burn Your Idol oleh Wok The Rock, TV Eye oleh Indieguerrilas, Gerakan Menolak Lupa oleh Anti-tank Project, Mas Toni Blank Show oleh X-Code Films, Esai Foto Ketoprak Tobong oleh Budi ND Dharmawan, dan 1 buah proyek yang diinisiasi oleh sejumlah seniman namun pada akhirnya melibatkan publik yang lebih luas yaitu Berbeda dan Merdeka 100%.

Selain memamerkan karya seni, ART|JOG|11 kali ini juga mengadakan program kunjungan ke museum bagi pelajar dan mahasiswa serta masyarakat umum yang berminat. Program ini tidak menarik bayaran dan disediakan bis yang diberangkatkan dari halaman TBY. Museum yang dikunjungi adalah OHD Museum di Magelang dan Istana Kepresidenan Yogyakarta.

OHD Museum yang merupakan museum pribadi dr. Oei Hong Djien, kolektor terdepan dalam dunia seni rupa Indonesia. Museum OHD terdiri dari dua gedung, gedung pertama berisi koleksi karya seni rupa modern Indonesia, sedangkan gedung kedua berisi koleksi karya seni rupa kontemporer Indonesia. Koleksi karya-karya seni yang dimiliki oleh dr. Oei, khususnya karya seni modern Indonesia, merupakan karya-karya seni seniman Indonesia yang cukup penting. Karenanya, koleksi ini sering dipinjam oleh museum-museum di luar negeri untuk dipamerkan.

Istana Kepresidenan Yogyakarta yang terletak di ujung selatan Malioboro saat ini menjadi tempat penyimpanan koleksi karya-karya seni milik negara. Saat ini tercatat cukup banyak koleksi negara yang disimpan di sini. Kesempatan untuk mengunjungi Istana Kepresidenan Yogyakarta dan melihat koleksinya termasuk istimewa karena pada hari biasa diperlukan ijin khusus untuk dapat masuk.



Lorenzo Rudolf yang membuka perhelatan ART|JOG11 cukup terkejut melihat jumlah dan antusias pengunjung pada malam pembukaan. Menurutnya, hal ini sangat berbeda dengan di Perancis dan beliau belum pernah mengalami hal seperti ini. Lorenzo Rudolf merupakan tokoh penting dalam dunia seni rupa internasional dan dianggap sebagai salah satu orang yang paling mengerti tentang pasar seni rupa dunia. Mantan pengacara ini dikenal karena dia berhasil  mengubah art fair kecil di Basel, desa kecil di Swiss, menjadi art fair paling penting di dunia yang sekarang dikenal dengan nama Art Basel. Selain Art Basel beliau juga membuat Art Basel Miami di Miami, Amerika. Salah satu art fair paling penting di Asia yaitu ShContemporary di Shanghai juga merupakan hasil kerjanya.

Menurut Lorenzo Rudolf, ART|JOG bisa menjadi awal yang penting, dalam konteks seni rupa Indonesia, sebagai usaha  untuk memantapkan posisinya di dunia seni rupa internasional. Kehadiran dan kesediaan sosok Lorenzo Rudolf untuk membuka perhelatan ini bisa merupakan tanda bahwa sebenarnya dunia seni rupa Indonesia telah cukup dikenal di dunia internasional. Apalagi dalam kesempatan kunjungannya ke Yogyakarta ini beliau juga bersedia meluangkan waktu untuk berdialog dengan pemilik-pemilik galeri di lingkup Asia-Pasifik dan lembaga-lembaga seni rupa Indonesia dalam Focus Group Discussion yang juga merupakan bagian dari perhelatan ART|JOG|11.

0 komentar:

Cari Blog Ini

Entri Populer

Image and video hosting by TinyPic
Diberdayakan oleh Blogger.