Senin, 18 April 2011
Apa saja yang terjadi dalam industri musik? Lalu apa itu sound designer? Inilah yang diperkenalkan oleh Jack Arthur Simanjuntak, atau yang akrab dipanggil Jack, dalam sesi kuliah Akademi Berbagi di  Kantor Amway Indonesia Wisma 46 Kota BNI, 26th floor Jl. Jend. Sudirman Kav. 1,Kamis (7/4).

"Musik adalah seni merangkai dan menggabungkan berbagai macam suara untuk membawa efek keindahan bagi yang mendengarnya. Tapi mendengarkan (to hear) berbeda dengan menyimak (to listen). Dalam proses produksi musik, keahlian yang wajib dimiliki adalah menyimak musik, tidak sekedar mendengarkan" tukas Jack, yang juga berprofesi sebagai dosen Fakultas Conservatory Music di Universitas Pelita Harapan, menekankan hal ini.
“Musik itu perlu dinamika,” begitu yang dikatakannya.

Dimulai dari tahun 2000-an, terjadi “perang” yang disebut Loudness War di dunia musik. Ada salah pengertian, yaitu semakin kencang suatu musik, maka semakin hebat pula musik itu. Menurut Jack, musik yang semacam inilah yang banyak beredar di masyarakat sekarang. Musik instan yang berorientasi bisnis dan hanya memanfaatkan momentum yang ada. Sedangkan seorang musisi itu seharusnya ditempa dalam waktu yang lama, tidak bisa sekali jadi.
“Penasaran? Coba saja dibandingkan musik dari tahun 80-an, 90-an, sampai ke 2000-an. Pasti berbeda sekali,” imbuhnya.

“Memang, dalam proses rekaman, dimulai dari penciptaan lagu sampai lagu tersebut jadi, banyak terjadi konflik kepentingan. Di sinilah fungsi seorang produser. Produser yang baik, mampu berkompromi dengan semua konflik dan mengarahkannya menjadi musik yang berkualitas,” jelasnya lebih lanjut. Di sinilah diperlukannya attitude, sikap dan prinsip dari seorang musisi.

Selain dalam industri musik, sound design memegang peranan penting dalam kesuksesan sebuah film. Seorang sound designer menciptakan efek suara yang diperlukan. Sehingga untuk menjadi seorang sound designer, diperlukan imajinasi. Dalam film, proses sound design dibilang berhasil jika gambar yang dilihat sesuai dan bisa diterima dengan suara yang didengar.

“Di film Transformer, misalnya. Kita tidak tahu bagaimana suara robot sebesar itu. Tapi sound designernya mampu menciptakannya dengan menggabungkan suara mesin, decit ban, besi beradu, sehingga penonton percaya seperti itulah suara robot besar,” jelasnya.

Menurutnya, profesi sound designer adalah profesi yangsangat menjanjikan karena di Indonesia belum banyak yang mengeksplornya.

Tertarik dengan sound design dan produksi musik pada umumnya? Jack juga bisa dihubungi lewat akun twitter-nya: @jackartsonic.

Cari Blog Ini

Entri Populer

Image and video hosting by TinyPic
Diberdayakan oleh Blogger.