Senin, 18 April 2011
Belas kasih memang seharusnya diberikan dengan tulus tanpa memandang perbedaan suku dan agama

Keceriaan anak-anak SamosirKeceriaan anak-anak SamosirDunia ini begitu banyak memberikan pilihan untuk dijalani manusia. Kita begitu percaya bahwa Tuhanlah yang menentukan jalan hidup kita dan semua terjadi atas kita adalah kehendakNYA.
Suka dan duka itu semua kehendak Tuhan. Namun Tuhan selalu punya rencana untuk tiap umatNYA dan rencana itu adalah kuasaNYA yang tidak pernah kita ketahui sebelumnya.

Kita menganggap bahwa kita dengan satu sama lain berbeda baik fisik, sosial, keyakinan, derajat, martabat, dan lain-lain. Padahal dimata Tuhan kita semua sama, yang membedakan kita hanyalah tingkat keimanan kita kepada Tuhan Yang Maha Esa. Namun manusia dari zaman ke zaman selalu terlihat membedakan dirinya dengan satu sama lain. Jika yang merasa kaya dan berkecukupan lebih tentu jauh berbeda dengan yang serba kekurangan. Namun apakah semua yang kaya itu mau berbagi dengan yang kekurangan?
Pebruari 2010, mas Galih dari Klub Indonesia Hijau Medan menelepon. Ternyata hasil pembicaraan adalah penawaran untuk menjadi relawan di Samosir dalam program pendidikan lingkungan.

Saat itu info yang kudapat tentu belum jelas namun dengan yakin walau entah apa yang menggerakkan hatiku untuk mengatakan iya. Tak lama setelah pembicaraan tersebut, HP ku menerima sms dari Togu Simorangkir yang akhirnya kuketahui, dialah yang menggagas berdirinya Yayasan ALUSI TaoToba. Inilah awal pembicaraan mimpi-mimpi ALUSI TaoToba.Salam perpisahan oleh Lady Situmorang (3) terhadap Tina Saragih.Salam perpisahan oleh Lady Situmorang (3) terhadap Tina Saragih.

Ada kebimbangan terhadap kemantapan pilihan, karena pada saat itu aku juga sudah ditawari oleh salah satu LSM yang bergerak dalam bidang kesehatan reproduksi remaja dan penanggulangan HIV/AIDS di Medan untuk menjadi konselor bagi para pengguna jarum suntik. Koordinator lapangan selalu mengingatkan untuk mengantar berkas data diri karena tanggal 9 April 2010 sudah harus dimulai. Pikir punya pikir, akhirnya aku memutuskan untuk memilih tawaran ALUSI TaoToba.
Mungkin pada saat itu banyak yang beranggapan bahwa ALUSI TaoToba bisa memberikan salary yang lebih besar dibanding LSM Penanggulangan HIV/AIDS. Aku tidaklah munafik bahwa aku juga pasti butuh uang tetapi dari yang kujalani setelah menyelesaikan studi S1 Kesehatan Masyarakat, tekanan dan ketidaknyamanan selalu menghampiri walau dari segi salary cukup lumayan.

Sebelumnya aku tidak pernah tahu siapa itu Togu Simorangkir dan bagaimana dia, tetapi dari pertemuan di bandara Polonia – Medan untuk pertama kalinya pada 9 April 2010, aku yakin aku bisa dapatkan yang aku cari jika bekerja dengan timnya. 12 April 2010 kami berangkat (Togu, Tina, dan Ganda) ke desa Pardomuan – Samosir untuk survey lapangan tempat ALUSI TaoToba mewujudkan mimpi-mimpi indahnya. Kami tiba di rumah kepala desa Pardomuan disambut hangat oleh ibu Kades.

Awalnya saya sangat terkejut setelah tahu bahwa tidak ada penduduk desa Pardomuan yang muslim seperti saya. Pada malam harinya saat istirahat di kamar saya merenung, bisakah nanti saya bertahan di desa ini dimana saya harus harus hidup dengan orang-orang yang memiliki keyakinan berbeda dengan saya. Namun akhirnya saya mantapkan hati bahwa saya sama dengan semuanya.

Yang berbeda hanyalah caranya dan bagiku urusan keyakinan itu urusan pribadi masing-masing. Saya tidak akan mengganggu keyakinan masyarakat di desa ini dan dengan harapan masyarakat juga tidak mengganggu keyakinan saya.

Pelukan terakhir dari anak-anak yang dididik selama setahunPelukan terakhir dari anak-anak yang dididik selama setahunMasyarakat desa Pardomuan mungkin merasa aneh melihat saya yang selalu memakai jilbab. Adakalanya mereka mempertegas tentang keyakinan saya dengan bertanya langsung, "ito beragama islam ya?" Saya tidak ingin masyarakat beranggapan bahwa saya terikat dengan organisasi keagamaan bahwa saya ditugaskan untuk penyebaran agama Islam.
Makanya jika ada kesempatan bertemu dengan masyarakat saya menjelaskan maksud dan tujuan saya berada di desa ini tidak lain tidak bukan hanya karena niat untuk berbagi dengan sesama tanpa memandang kepercayaan dan keyakinan. Awal keberadaan di desa ini, adalah hal yang sangat berat dimana saya harus bisa meyakinkan masyarakat bahwa saya hanya untuk berbagi khususnya untuk pendidikan.
Terkadang saya mendengar di jalan jika ada orang "Eh, ada orang Islam" dan terkadang mereka bilang "Assalamualaikum". Namun akhirnya semuanya berjalan baik dimana akhirnya masyarakat bisa menerima saya seperti saudara mereka dan kami tidak pernah saling merendahkan.

Memang terkadang tentu ada jarak antara Islam dan Kristen. Disaat ada pesta atau ada acara saya tidak pernah diundang karena tentunya makanan yang disajikan mereka tidak bisa saya makan. Semua orang yang tahu tentang apa yang saya lakukan di Samosir heran, mengapa? Kok bisa ya dan mau tinggal yang berpenduduk Kristen semuanya dan jauh dari keramaian. Tapi semuanya berpulang pada hati dan niat yang tulus.

Ada Hal tidak kusuka dari hidup di Samosir khususnya Lontung, yang pertama jika malam sungguh sepi apalagi tidak ada hiburan ya setidaknya TV hanya suara jangkrik dan gemuruh angin sekali-kali yang datang menemani hampir tiap malamku. Sungguh suatu masalah jika terbangun tengah malam karena suara angin yang kencang, saya ketakutan padahal tidak ada apa-apa pasti segera ku sms si Abi (panggilan sayang untuk pujaan hatiku) dan langsung diteleponlah saya sampai nanti saya bisa terlelap tidur lagi. Si Abi memang tidak suka jika saya tinggal di Lontung dengan kondisi yang sering saya ceritakan dengannya namun dia selalu ada buat saya disaat saya butuh teman untuk diajak ngobrol, memberikan masukan dan selalu mendukung untuk kegiatan positif yang saya lakukan.
Kepala Desa Pardomuan dan istri memberikan ulos sebagai rasa terima kasihKepala Desa Pardomuan dan istri memberikan ulos sebagai rasa terima kasih
Yang kedua, di Lontung sungguh susah mencari sayur-sayuran untuk dimakan. Kalau pun ada dijual yang ada selalu sawi putih dan kol. Di danau Toba yang katanya sumber ikan, juga susah untuk dibeli sekali-kali saja ada yang mau ke atas untuk mengantar ikan. Jadi ya harus puaslah kadang bisa makan ikan segar seminggu sekali bahkan lebih. Telor, sarden kaleng, mie instan, dan ikan teri adalah lauk rutin yang terus dikonsumsi. Syukuri, karena masih banyak saudara kita yang susah untuk bisa makan bahkan terkadang tidak bisa makan sehari sekali. Namun memang sungguh indah hidup berdampingan dengan damai, walau pun berbeda keyakinan tetangga selalu memberi makanan ke rumah.

Komitmen yang sudah tertanam dihati bahwa tujuan ke Samosir hanya untuk berbagi jadi tidaklah ada pertanyaan "berapa salary yang kamu inginkan?" Tetapi, tidaklah munafik kalau kebutuhan saya tidak hanya sebatas makan. Makan okelah tidak jadi pikiran tetapi asuransi perbulan yang selalu dipikirkan. Di ALUSI TaoToba tidak ada yang namanya salary yang ada hanya uang saku, itu pun harus bersabar tidak tiap bulan bisa dibayarkan kadang 2 bulan sekali, kadang 3 bulan sekali tergantung jika ada yang memberi donasi. Untung tidak hidup sendirian di dunia ini, jadi jika pas tidak ada uang ya pasang muka tembok pinjam ke teman-teman untuk bayar asuransi dan kebutuhan lainnya.

Dari cerita diatas kok sepertinya cerita bawang merah dan bawang putih yang selalu menceritakan kisah sedihnya bawang putih. Ada hal yang tidak bisa dibayar dengan uang atau barang -barang, apa yang kulakukan di Lontung memberi kebahagiaan tersendiri. Aku bisa tertawa dan bermain bersama masyarakat khususnya anak-anak. Aku bisa belajar tentang apa yang tidak kuketahui sebelumnya tentang kehidupan di desa. Banyak yang bisa kuambil dari Lontung ini, mulai dari cara hidup sampai kebudayaan yang begitu mengakar di Lontung ini.
Terlalu indah memang bisa berbagi dengan masyarakat hingga saya bisa bertahan selama 1 tahun di Lontung dengan segala kekurangan dan keterbatasan. Sebenarnya waktu untuk belajar di masyarakat dalam kurun waktu 1 tahun masih kurang tetapi saya juga punya tanggung jawab dan bakti kepada orangtua, diumur saya yang sudah 25 tahun, orangtua saya meminta untuk memberikan tanggung jawab mereka terhadap saya kepada seseorang yang bisa menggantikan tanggung jawab mereka. Akhirnya tercapailah keinginan mereka, Mei 2011 ada seseorang yang mau menggantikan tanggungjawab orangtua saya dan untuk itu akhirnya saya harus rela meninggalkan Lontung – Samosir dan keceriaan anak-anak. Selain itu semua saya juga punya mimpi bahwa nanti saya ingin juga berbagi buat anak-anak jalanan dan cacat dan saya bisa melanjutkan studi S2 ke luar negeri. Amin.

Bersama anak-anak SamosirBersama anak-anak SamosirSaat saya menulis cerita ini hanya tinggal menghitung hari keberadaan saya di Lontung. 27 Maret 2011, saya meninggalkan Lontung dan anak-anak. Entah mereka sedih atau tidak saat saya tinggalkan tetapi bagi saya sesungguhnya saya tidak sanggup untuk mengangkat kaki ini. Tetapi harapan saya jika nanti sudah beberapa tahun saya menerima kabar bahwa anak-anak ini sudah menjadi orang-orang yang hebat. Amin. Besar harapan saya terhadap ALUSI TaoToba untuk bisa terus berkarya dengan cara yang bersahaja dan sederhana. Meskipun nanti saya tidak berada lagi di Lontung tetapi saya akan terus ada buat ALUSI TaoToba semampu yang dapat saya lakukan.

Buat bang Togu, teruskanlah mimpi-mimpi indah yang sudah menjadi komitmen ALUSI TaoToba. Dengan keyakinan penuh, Tuhan pasti ada buat ketulusan hati.

Buat Ganda, hal kecil yang sudah dilakukan akan berdampak besar buat orang banyak.

Anggaplah Lontung ini sudah menjadi bagian dari keluargamu. Apapun nanti mimpi indahmu Tuhan ada bersamamu.

Buat Meike, Tuhan pasti membayar apa yang sudah Meike korbankan untuk kampung halamanmu. Tetap terus bermimpi dan yakin bahwa mimpi itu akan terwujud nantinya.

Buat anak-anak, terutama Santri, Sovia, Goklas, Elliezer, Elle, Lauren, Lady dan lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, kakak sungguh sangat sedih untuk meninggalkan kebersamaan kita. Jadilah kalian semuanya orang hebat yang rendah hati. I'm Gonna Miss u all....
"aku akan datang ketika musim mangga""aku akan datang ketika musim mangga"
Buat Kepala desa dan Ibu kepala desa, terima kasih yang sungguh teramat dalam selama ini sudah menjadi pengganti orangtuaku. Tempat mengadu dan meminta bantuan. Tuhan memberkati amang dan namboru.

Buat keluarga Batara Situmorang terutama Mami Elle, sungguh saya seperti tinggal dengan kakak sendiri. Saya tidak bisa membalas kebaikan keluarga ini dengan apapun. Hanya doa yang bisa kuberikan agar keluarga ini diberkati Tuhan. Amin.
Buat masyarakat Pardomuan, terima kasih sudah menerima saya seperti keluarga sendiri meskipun kita berbeda keyakinan. Tuhan memberkati kita semua.

Buat para donatur, saya tidak bisa berkata apa-apa atas kemurahan hati para donatur yang mau berbagi dengan masyarakat desa Pardomuan ini. Tuhan memberkati kita semua. Amin

Sampai disinilah yang bisa saya bagikan tentang apa yang sudah saya jalani selama 1 tahun di Lontung. Jangan pernah takut bermimpi anak-anakku dan masyarakat desa Pardomuan. Tuhan memberkati kita semua. Aamiin.  [*RS]
Surat ini ditulis oleh Tina Saragih, salah satu relawan pendidikan lingkungan yang sempat mengabdikan dirinya bagi anak-anak Samosir selama setahun. Tina adalah relawan ALUSI TaoToba [salah satu jejaring Lentera Network] selama 1 tahun untuk membantu pertumbuhan Sopo Belajar Lontung, Samosir
[Photo: Yayasan Alusi Tao Toba ]
di kutip dari: http://www.tnol.co.id/id/community/community-writes/8896-satu-tahun-yang-indah-di-lontung-.html

Cari Blog Ini

Entri Populer

Image and video hosting by TinyPic
Diberdayakan oleh Blogger.