Sabtu, 19 Maret 2011
Gamelan tidaklah lekang di makan zaman. Bahkan musik gamelan menjadi sumber inspirasi komposer Amerika seperti Lou Harrison. Hal inilah yang menginspirasi penyelenggaraan acara ‘Lou Harrison Gamelan” yang merupakan hasil kerja sama KBRI dengan Post Classical Ensemble, sebuah organisasi musik yang oleh Washington Post disebut “wildly ambitious’.
Acara yang digelar pada 4 maret 2011 di KBRI Washington DC tersebut telah menarik minat publik AS untuk mengagumi alunan gamelan Jawa, seperti ditunjukkan oleh sekitar 300 orang peminat musik gamelan yang dimainkan oleh Wesleyan University dan gamelan KBRI, yang pada malam tersebut memainkan memainkan dua alunan gamelan, overture dan Bubaran.

Selain menampilkan gamelan Wesleyan University, acara malam hari itu juga menghadirkan dua Pembicara; Bill Alves, seorang komposer California yang juga menciptakan paduan gamelan dan musik barat dalam CD-nya berjudul Imbal-Imbalan, serta Sumarsam, ‘guru’ gamelan di Wesleyan University. Keduanya berbicara tentang perpaduan antara gamelan dan musik barat, khususnya pada karya Lou Harrison.

Memberikan sambutan pada acara tersebut, Dubes RI, Dino Patti Djalal, menggarisbawahi bahwa kini semakin nyata bahwa perbedaan budaya bukanlan hal yang memisahkan, namun paduan dua hal yang berbeda dapat menghasilkan sebuah ‘fusion’ yang menarik, dan bahkan memperkaya nuansanya, seperti tampak pada karya Lou Harrison. Dubes juga menyampaikan penghargaan kepada para musisi dan komposer yang mengangkat karya-karya gamelan, seperti halnya almarhum Lou Harrison dan juga Bill Alves.

Sebagaimana dikenal di kasanah musik gamelan, Lou Harrison adalah seorang komposer terkemuka AS yang telah dikenal dunia dengan puluhan karya orchestra dan opera termasuk dua komposisi paduan gamelan dan musik barat; Gamelan Piano Concerto dan Bubaran Robert. Berbicara tentang karya gamelan Lou Harrison, Bill Alves, menyampaikan bahwa dengan memadukan gamelan dengan musik barat, Lou Harrison, menunjukkan ‘sisi romantis’ musik tersebut. Paduan instrumen musik barat, seperti piano concerto dengan gamelan, memberikan efek ‘masuknya paduan’ piano solo dalam unsur komunalitas gamelan.

Sementara itu, Sumarsam, menjelaskan bahwa paduan nuansa tradisional gamelan dengan instrumen barat, di Jawa sendiri bukanlah hal yang baru. Sumarsam mencontohkan gamelan jawa yang dimainkan di Kraton Yogyakarta, banyak yang dimainkan dengan instrumen drum. Gamelan dan terompet juga menghasilkan paduan menarik dalam irama yang banyak dikenal dengan tanjidor.

Program tersebut merupakan bagian dari rangkaian ‘Lou Harrison Festival”, yang diawali dengan premiere film dokumenter “Lou Harrison: A World of Music” pada 26 Februari dan the Music of Lou Harrison in Concert, di Lisner Auditorium, George Washington University pada Sabtu, 5 Maret 2011. Pada dua program tersebut, Post Classical Ensemble bekerja sama dengan National Gallery of Art dan George Washington University .

Cari Blog Ini

Entri Populer

Image and video hosting by TinyPic
Diberdayakan oleh Blogger.