Sabtu, 15 Januari 2011
Foto : IstimewaFoto : IstimewaPULAU ini makin akrab dengan kita setelah Presiden SBY dalam pidatonya selalu menyinggung kalimat ’Dari Miangas sampai Pulau Rote, dari Sabang sampai Merauke’. Memang benar, Pulau Miangas yang mengndung arti harfiah ‘Menangis’ ini, merupakan pulau terluar yang jaraknya sangat dekat dengan Filipina dengan jarak tempuh sekitar 3-4 jam perjalanan dengan kapal perintis.

Jika ditempuh dari Pulau Bitung, Sulawesi Utara jarak tempuhnya bisa mencapai 2-3 hari serta hanya bisa ditempuh dengan kapal perintis yang hanya berlayar jika kondisi gelombang laut sedang bersahabat. Jika air laut sedang tinggi, jangan harap ada kapal yang menyambangi pulau ini.
Foto : IstimewaFoto : IstimewaUntuk itulah pada bulan-bulan dimana air laut sedang tinggi yaitu Desember, Januari dan Februari, Pulau Miangas dikatakan sedang menangis, karena bisa dipastikan tidak akan ada kapal yang berani singgah di pulau seluas 6,2 km tersebut. Bisa dibayangkan ketersediaan kebutuhan pokok dan barang kebutuhan rumah tanngga lain.
Foto : IstimewaFoto : IstimewaBagi para petualang minat khusus atau backpacker sejati, tidak ada salahnya berkunjung ke pulau ini. Dengan sulitnya medan yang dijangkau dan didukung pemandangan alam yang indah serta kearifan masyarakat lokalnya yang memegang teguh adat istiadat, diyakini akan banyak meninggalkan kesan.
Ketika memulai perjalanan dari Pulau Bitung, kita bisa menikmati pemandangan pulau-pulau kecil yang terhampar sepanjang Kabupaten Sitaro. Sitaro sendiri diambil dari gugusan pulau-pulau yang ada di wilayah tersebut yaitu Siau, Tagulandang dan Biaro.
Foto : IstimewaFoto : IstimewaSelepas Sitaro menuju ke Marore, Kabupaten Sangihe, perjalanan sedikit berbeda, karena kapal yang ditumpangi akan dipaksa menerjang ganasnya ombak lautan Samudera Pasifik sehingga, bisa dipastikan semua penumpang harus berada di dalam kapal dan tidak bisa menikmati perjalanan seperti di Sitaro. Diperlukan waktu 12-15 jam untuk mencapai Miangas.
Sesampainya di Miangas, kapal pun akan disambut suka cita oleh puluhan penduduk sekitar. Bukan karena kedatangan tamu istimewa, namun karena jarangnya kapal yang sampai ke pulau tersebut. Hal ini tentunya mengundang antusiasme warga untuk datang ke pelabuhan sekedar menyambut atau mengambil barang-barang titipan mereka dari pulau lain.
Foto : IstimewaFoto : IstimewaDengan hamparan pasir putih yang luas, dan kebun kelapa yang tumbuh subur dimana-mana, masyarakat sekitar sangat menjaga kelestarian alam. Hal ini karena setiap aktivitas mereka lakukan seperti panen, pembukaan lahan, penangkapan ikan dan lain-lain selalu mengandalkan peraturan adat yang disebut warga ’Eha’.
Jadi menyusuri pulau yang indah ini hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki karena tidak tersedia sarana transportasi umum serta fasilitas penginapan umum.  Wisatawan bagaikan terdampar di pulau terasing yang masih perawan. Bagi backpacker sejati, tentunya semua itu akan menjadi sebuah pengalaman yang sangat berarti.
Foto : IstimewaFoto : IstimewaMengelilingi pulau ’yatim piatu’ ini, para petualang bisa menemui masyarakat yang tengah berkebun, bercocok tanam, menangkap ikan dengan semua peralatan tradisional yang mereka miliki. Tidak ketinggalan pula keanekaragaman hayati serta pemandangan lepas pantai yang sejuk dan alami.
”Hanya wisatawan dengan minat khusus yang akan menemukan petualang sejati di pulau tersebut. Karena, mulai dari jarak tempuh, beragam medan yang sulit dilewati baik darat dan laut, yang akhirnya mampu diredam oleh keindahan panorama alam dan kearifan lokal masyarakat,” ujar Bambang H Suta Purwana, Peneliti Puslitbang Kemenbudpar.

Cari Blog Ini

Entri Populer

Image and video hosting by TinyPic
Diberdayakan oleh Blogger.